Wednesday, 11 October 2017

Shalat Hajat Untuk Memperoleh Kemudahan Rejeki

Diriwayatkan dari Imam Zainal Abidin (sa): Pada suatu hari ia menjumpai seseorang sedang duduk di depan pintu orang lain, lalu beliau berkata kepadanya: Mengapa kamu duduk di depan pintu manusia yang hidupnya suka berfoya-foya dan angkuh, celakalah kamu. Lalu beliau berkata: Bangunlah! Akan kuantarkan kamu ke pintu yang lebih baik darinya, kepada Pemelihara Yang Maha Agung. Kemudian Imam Zainal Abidin (sa) memegang tangannya lalu mengantarkannya sampai ke masjid Nabi saw. Lalu beliau berkata kepadanya: Menghadaplah ke kiblat, lalukan shalat dua rakaat, kemudian angkatlah tanganmu kepada Allah ‘Azza wa Jalla, pujilah Allah, bacalah shalawat; kemudian berdoalah dengan akhir surat Al-Hasyr, enam ayat dari awal surat Al-Hadid, dan dua ayat surat Ali-Imran, kemudian mohonlah kepada Allah swt apa yang kamu inginkan. Sungguh tidaklah kamu meminta sesuatu kepada-Nya kecuali Dia akan memberimu.

Cara melakukannya:
  • • Lakukan shalat dua rakaat dengan niat untuk mencapai hajat. Setiap rakaat setelah membaca Fatihah, membaca salah satu surat Al-Qur’an.
  • • Setelah salam membaca zikir pujian kepada Allah, dan shalawat kepada Rasulullah dan keluarganya.
  • • Kemudian berdoa dengan membaca akhir surat Al-Hasyr, enam ayat dari awal Surat Al-Hadid, dan dua ayat Surat Ali-Imran, yaitu:

لَوْ أَنزَلْنَا هَذَا الْقُرْءَانَ عَلى جَبَلٍ لَّرَأَيْتَهُ خَاشِعاً مُّتَصدِّعاً مِّنْ خَشيَةِ اللَّهِ وَ تِلْك الأَمْثَلُ نَضرِبهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ. هُوَ اللَّهُ الَّذِى لا إِلَهَ إِلا هُوَ عَلِمُ الْغَيْبِ وَ الشهَدَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ. هُوَ اللَّهُ الَّذِى لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْمَلِك الْقُدُّوس السلاَمُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكبرُ سبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشرِكونَ. هُوَ اللَّهُ الْخَلِقُ الْبَارِئُ الْمُصوِّرُ لَهُ الأَسمَاءُ الْحُسنى يُسبِّحُ لَهُ مَا فى السمَاوَتِ وَ الأَرْضِ وَ هُوَ الْعَزِيزُ الحَْكِيمُ

Law anzalnâ hâdzal qur’âna ‘a-lâ jabalin laraytuhû khâsyi’an mutashaddi’an min khasy-yatil-lâh, wa tilkal amtsâlu nadhribuhâ linnâsi la’allahum yatafakka-rûn. Huwallâhul ladzî lâilâha illâ Huwa, ‘آlimul ghaybi wasy syahâdah, Huwar Rahmânur Rahîm. Huwallâhul ladzî lâ ilâha illâ Huwal Malikul Qud-dûsus Salâmul Mu’minul Muhaymin(u), Al-’Azîzul Jabbârul Mutakabbir, Subhânallâhi ‘ammâ yusyrikûn(a). Huwallâhul Khâliqul Bâriul Mushawwiru, lahul asmâul husnâ, yusabbihu lahû mâ fis samâwâti wal ardhi, wa Huwal ‘Azîzul Hakîm.

Kalau sekiranya Kami menurunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir. Dialah Allah Yang tiada tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Dialah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dialah Allah Yang tiada tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Memberi kesejahteraan, Yang Maha Memberi keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Maha Memiliki semua keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk rupa, Dialah Yang Memiliki nama-nama yang paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di di langit dan di bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (Al-Hasyr/59: 21-24).

بِسمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ‏
سبَّحَ للَّهِ مَا فى السمَوَتِ وَ الأَرْضِ وَ هُوَ الْعَزِيزُ الحَْكِيمُ‏. لَهُ مُلْك السمَوَتِ وَ الأَرْضِ يحْىِ وَ يُمِيت وَ هُوَ عَلى كلّ‏ِ شىْ‏ءٍ قَدِيرٌ. هُوَ الأَوَّلُ وَ الاَخِرُ وَ الظهِرُ وَ الْبَاطِنُ وَ هُوَ بِكلّ‏ِ شىْ‏ءٍ عَلِيمٌ‏. هُوَ الَّذِى خَلَقَ السمَوَتِ وَ الأَرْض فى سِتَّةِ أَيَّامٍ ثمَّ استَوَى عَلى الْعَرْشِ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فى الأَرْضِ وَ مَا يخْرُجُ مِنهَا وَ مَا يَنزِلُ مِنَ السمَاءِ وَ مَا يَعْرُجُ فِيهَا وَ هُوَ مَعَكمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ وَ اللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ. لَّهُ مُلْك السمَوَتِ وَ الأَرْضِ وَ إِلى اللَّهِ تُرْجَعُ الأُمُورُ. يُولِجُ الَّيْلَ فى النهَارِ وَ يُولِجُ النهَارَ فى الَّيْلِ وَ هُوَ عَلِيمُ بِذَاتِ الصدُورِ

Bismillâhir Rahmânir Rahîm, sabbaha lillâhi mâ fis samâwâti wal ardh(i), wa Huwal ‘Azîzul Hakîm(u). Lahû mulkus samâ-wâti wal ardh(i), yuhyî wa yumît(u), wa Huwa ‘alâ kulli syay-in qadîr(u). Huwal Awwa-lu wal آkhiru wazh-Zhâhiru wal Bâthin(u), wa Huwa bikulli syay-in ‘alîm(u). Huwal ladzî khalaqas samâwâti wal ardha fî sittati ayyâm(in) tsummastawâ ‘alal ‘arsy(i), ya’lamu mâ yaliju fil ardhi wamâ yakhruju minhâ wamâ yanzilu minas samâi wa mâ ya’ruju fîhâ, wa Huwa ma’akum aynamâ kuntum, wallâhu bimâ ta’malûna bashîr(u). Lahû mulkus samâwâti wal ardh(i), wa ilallâhi turja’ul umûr(u). Yûlijul layla fin nahâri wa yûlijun nahâra fil layl(i), wa Huwa ‘Alîmun bidzâtish shudûr.

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Semua yang berada di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dan Dilalah Yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana. Milik Dialah langit dan bumi, Dia yang menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arasy, Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar dari padanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dia bersama kamu dimana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. Milik Dialah kerajaan langit dan bumi. Dan kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan. Dialah yang memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam. Dan Dia Maha Mengetahui segala isi hati. (Al-Hadid/57: 1-6).

قُلِ اللَّهُمَّ مَلِك الْمُلْكِ تُؤْتى الْمُلْك مَن تَشاءُ وَ تَنزِعُ الْمُلْك مِمَّن تَشاءُ وَ تُعِزُّ مَن تَشاءُ وَ تُذِلُّ مَن تَشاءُ بِيَدِك الْخَيرُ إِنَّك عَلى كلّ‏ِ شىْ‏ءٍ قَدِيرٌ. تُولِجُ الَّيْلَ فى النَّهَارِ وَ تُولِجُ النَّهَارَ فى الَّيْلِ وَ تُخْرِجُ الْحَىَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَ تُخْرِجُ الْمَيِّت مِنَ الْحَىّ‏ِ وَ تَرْزُقُ مَن تَشاءُ بِغَيرِ حِسابٍ‏

Qulillâhumma mâlikal mulki tu’til mulka man tasyâ’ wa tun-zi’ul mulka mimman tasyâ’, wa tu’izzu man tasyâ’ wa tudzillu man tasyâ’ biyadikal khayr(u), innaka ‘alâ kulli syay-in qadîr (un). Tûlijul layla fin nahâri wa tûlijun nahâra fil layl(i), wa tukhrijul hayya minal mayyiti wa tukhrijul mayyita minal hayy(i), wa tarzuqu man tasyâu bighayri hisâb.

Katakanlah: Wahai Tuhan yang memiliki kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebaikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rizki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab, tanpa perhitungan. (Ali-Imran/3: 26-27)

Baca Juga :
Kesalahan Remaja zaman sekarang!!
Inilah Alasan Mengapa Rasulullah Melarang Minum & Makan Sambil Berdiri
Hukum Isbal
Keutamaan Salat di Barisan Paling Depan
Dosa yang Tetap Mengalir Meski Sudah Meninggal

Tags :
Islam, Muslim, Muslimah, Nabi Muhammad, Allah SWT, Al Qur'an, Rasullulah, Shalat Hajat, Rezeki

4 Hikmah dari Sujud Syukur

Hikmah dari melakukan sujud syukur adalah sebagai berikut:

1. Orang yang mendapatkan nikmat dan kelebihan kalau tidah behati-hati dapat lupa diri. Sehingga orang tersebut bisa menjadi angkuh atau sombong. Dan orang yang melakukan sujud syukur tersebut akan terhindar dari sifat sombong atau angkuh itu.

2. Memperoleh kepuasan batin berkaitan dengan anugerah yang diterima dari Allah SWT.

3. Merasa dekat dengan Allah SWT. Sehingga memperoleh bimbingan dan hidayahNya.

4. Memperoleh tambahan nikmat dari Allah SWT. Serta selamat dari siksaNya.

Itulah empat hikmah dari sujud syukur.

Baca Juga :
Kecerdasan Militer Khalid bin al-Walid
Nabi Muhammad Memohonkan Syafaat Untuk Seluruh Umat
Sang Penakluk Maghrib dan Andalusia
Rajinlah Shalat Tahajud, Ini Manfaatnya
Hadits Keutamaan Al-Qur’an (Perumpamaan Bagi Pembaca Al-Qur’an)

Tags
Islam, Muslim, Muslimah, Nabi Muhammad, Allah SWT, Rasullulah, Sujud, Sujud Syukur, Bersyukur, Hikmah Sujud Syukur, Al Qur'an

12 Nabi Palsu Zaman Rasulullah SAW

Berikut dalil sanggahan yang menyatakan bahwa nabi, sesudah Nabi Muhammad SAW tidak akan pernah ada. Nabi SAW penutup Rasul dan Para nabi. Tidak ada nabi setelah Nabi SAW wafat. Dari dalil ini, mereka yang mengaku nabi, pasti akan ditumpas oleh umat Islam.

Ayat Al Qur'an Surat Al Ahzab ayat 40:

Allah SWT berfirman,

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا 

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu[1223]., tetapi Dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
(QS. Al-Ahzab: 40).

Hadits.
Hadits yang menguatkan bahwa tidak ada Rasul bahkan Nabi setelah Nabi Muhammad SAW.
Dari Ali Karim, keberadaan nabi palsu ini memang sudah diramalkan oleh Rasulullah SAW sebelum Beliau meninggal.

Rasulullah SAW bersabda,

"Akan muncul dari tengah umatku pendusta semuanya mengaku nabi, padahal aku adalah penutup para nabi, tidak ada nabi sesudahku. Dan akan senantiasa ada sekelompok dalam umatku yang berada di atas kebenaran" (HR. Abu Daud dan Ahmad).

Rasulullah SAW bersabda,

"Dalam umatku ada 27 pendusta dan pembohong, 4 diantara mereka adalah perempuan. Dan sesungguhnya aku adalah penutup para nabi, tidak ada nabi sesudahku." (HR. Thahawi).

Berikut ini Nabi Palsu pada Zaman Rasulullah SAW.

1. Abhalah bin Ka'ab bin Ghauts Al Kadzdzab alias Al Aswadi Al Ansi.
Pada masa Rasulullah SAW.
Berasal dari Yaman dan dia berhasil dibunuh oleh istrinya sendiri yang bekerjasama dengan kaum muslimin.

2. Thulaihah bin Khuwailid bin Naufal.
Pada zaman Rasulullah SAW.
Berasal dari Bani Asad.
Dia bersama istrinya kabur ke Syam, hingga dia akhirnya kembali ke pangkuan Islam.

3. Musailamah bin Tsumamah bin Habib Al Kadzdzab.
Berasal dari Yamamah.
Dia mati sesudah dilempar tombak oleh Musilamah bin Harb pada kekhalifahan Abu Bakar Ash-Shiddiq.

4. Sajah binti Al Harits bin Suwaid.
Pada Masa Khalifah Muawiyah bin Abi Sufyan.
Seorang perempuan yang berasal dari Bani Tamim.
Dia diusir oleh sang khalifah.

5. Al Mukhtar bin Abi Ubaid.
Berasal dari Thaif, penganut Syiah yang mengaku nabi.
Dia adalah saudara ipar Abdullah bin Umar bin Khattab.
Mati dibunuh oleh Mush'ab bin Az-Zubair.

6. Mirza Ali Mohammad.
Pada abad 19.
Pendiri agama Babisme.
Dihukum mati oleh pemerintah Iran pada 1843.

7. Mirza Husein Ali.
Pendiri agama Bahaisme, penganut syiah.
Mati pada tahun 1892.
Dilanjutkan oleh anknya yang bernama Abbas Efendy yang bermarkas di Chicago, USA.

8. Mirza Ghulam Ahmad.
Berasal dari India.
Mati terkena penyakit kolera.
Pendiri agama Ahmadiyah, tapi kitabnya bukan Al Qur'an melainkan Tadzkirah.

9. Rashad Khalifa.
Dari Mesir 1835-1908.
Mati dicincang oleh pengikutnya sendiri dengan pisau dapur.

10. Asy Syaikhah Manal Wahid Manna.
Seorang wanita mengaku nabi.
Dipenjari oleh pemerintahan Mesir.

11. Tsurayya Manqus.
Seorang wanita dari Yaman.
Mati dibunuh oleh pengikutnya sendiri dan disalib.

12. Muhammad Abdur Razak Abul 'Ala.
Dari sudan.

Baca Juga :
Subhanallah, Inilah Manfaat Dari Sedekah Dalam Islam
AKHLAK dalam EKONOMI
Pelajaran dari Kisah Sujudnya Para Malaikat kepada Adam
Runtuhnya Kerajaan Turki Usmani
8 Rahasia Tentang Masjidil Aqsha

Tags :
Islam, Muslim, Nabi Muhammad, Nabi, Rasullulah, Arab, Yaman, Mesir, Al Qur'an, Nabi Palsu, 

Peristiwa Penting Di Bulan Dzulhijjah

4 Dzulhijjah
Pasukan Mongol dibawah pimpinan Jengis Khan berhasil menaklukan kota Bukhara (masuk wilayah negara Uzbekistan) setelah mengepungnya selama tiga hari. Penduduknya diusir dari kota, dan ada pula yang dibunuh. Setelah itu, Jengis Khan memerintahkan untuk membakar kota tersebut.

11 Dzulhijjah
Panglima Islam Shalahuddin Al-Ayubi bersama pasukannya berhasil menaklukkan benteng pertahanan ‘Azaz. Dalam menaklukkan ini butuh waktu tiga puluh delapan hari mengepung benteng, karena saking kuat dan kokohnya benteng tersebut. Nilai strategisnya benteng ini sebagai tempat berkumpulnya pasukan kafir dari Aleppo (Halab, Syiria) dan pasukan salib dar Athaqia.

18 Dzulhijjah
Syahidnya Khalifah yang ketiga, Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu.Sahabat yang menikahi dua putri Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yakni Ruqayyah dan Ummu Kultsum. Beliau syahid dalam keadaan memegang mushaf.

Al-Ashma'i berkata, "Dari al-'Ala' bin al-Fadhl dari ayahnya berkata, "Ketika Utsman bin Affan ra. terbunuh mereka memeriksa lemari-lemarinya dan mereka dapati di dalamnya sebuah kotak yang terkunci. Setelah mereka buka ternyata isinya adalah selembar kertas yang bertuliskan:

Ini adalah wasiat Utsman

Dengan Nama Allah Yang Malm Pengasih lagi Penyayang

"Utsman bin Affan ra. bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah selain Allah SWT. semata tiada sekutu bagiNya dan bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusanNya. Surga itu benar adanya dan neraka itu juga benar adanya. Bahwasanya Allah SWT. akan membangkitkan manusia dari dalam kubur di hari yang tidak diragukan lagi dan Allah SWT. tidak akan menyelisihi janjiNya. Di atasnya manusia hidup dan di atasnya pula manusia mati dan di atasnya juga akan dibangkitkan kembali insya Allah SWT.."

25 Dzulhijjah
Syahidnya Khalifah yang kedua, Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhusepulang dari melakukan ibadah haji pada tahun 23 H. Tatkala beliau akan meninggalkan Mina, berhentilah Abthah, beliau mengadu kepada Allah, tentang usia yang telah senja, kekuatannya melemah, sementara rakyatnya tersebar luas dan beliau takut tidak bias menjalankan amanahnya dengan sempurna. Lantas beliau berdoa kepada Allah, agar Allah ta’ala mewafatkannya, memberikan syahadah (mati syahid) kepadanya, serta dimakamkan di negeri hijrah “Madinah”.

Akhirnya beliau ditikam oleh Abu Lu’lu’ah, ketika Umar radhiyallahu ‘anhu sedang sholat di Mihrab pada waktu shubuh dengan belati yang memilki dua mata. Tikaman ini mengenai bawah pusar hingga terputus urat-urat dalam perut beliau dan Umar radhiyallahu ‘anhu jatuh serta menyuruh Abdurrahman bin Auf menggantika posisi imam sholat.

Lantas Abu Lu’lu’ah berlari ke belakang sambil menikam seluruh orang yang dilaluinya. Dalam peristiwa ini terdapat 13 orang mengalami luka-luka dan 6 orang meninggal. Maka dengan segara Hatthan at-Tamimim al-Yarbu'i melemparkan mantelnya untuk menangkap Abu Lu’lu’ah, kemudian Abu Lu’lu’ah melakukan bunuh diri.

Kemudian jenazah beliau dikuburkan di samping makam Abu Bakar Ash-Shidiq radhiyallahu ‘anhu dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah meminta ijin kepada Ummul Mukminin ‘Aisyah.

Berikut wasiat Umar bin Khattab

"Aku tidak mendapati ada orang yang lebih berhak untuk memegang urusan ini (menjadi khalifah) selain dari enam orang yang Rasulullah saw. rela atas mereka ketika wafatnya." Umar ra. menye-butkan nama mereka, Ali, Utsman ra., az-Zubair, Thalhah, Sa'ad dan Abdurrahman. Beliau berkata, "Yang menjadi saksi kalian adalah Abdullah bin Umar ra., dan ia tidak berhak dipilih. Jika kelak yang terpilih Sa'ad maka dia berhak untuk itu, jika tidak maka hendaklah kalian memintanya agar menunjuk siapa yang berhak di antara kalian, sebab aku tidak pernah mencopotnya disebabkan dia berkhianat ataupun kelemahannya. Aku wasiatkan kepada Khalifah setelahku agar memperhatikan kaum Muhajirin yang terdahulu keislamannya, hendaklah dijaga dan diperhatikan hak-hak maupun kehormatan mereka. Aku juga wasiatkan kepada penggantiku kelak agar memperhatikan kaum Anshar sebaik mungkin. Merekalah orang-orang yang telah menyiapkan kampung halaman beserta rumah mereka untuk menampung kaum Muhajirin dan orang-orang yang beriman. Hendaklah kebaikan mereka dihormati dan diterima dengan baik, dan kejelekan mereka hendaklah dimaafkan. Aku wasiatkan kepada pengantiku untuk memperhatikan seluruh penduduk kota sebab mereka adalah para penjaga Islam, pemasok harta dan pagar pelindung terhadap musuh. Janganlah diambil dari mereka kecuali kelebihan dari harta mereka dengan kerelaan hati mereka. Aku wasiatkan juga kepada penggantiku kelak agar memperhatikan dengan baik orangorang Arab pedalaman, sebab mereka adalah asalnya bangsa Arab dan personil Islam. Hendaklah dipungut dari mereka zakat binatang ternak mereka dan disalurkan kepada orang-orang yang miskin dari mereka. Aku wasiatkan juga kepada penggantiku kelak agar menjaga seluruh ahli dzimmah. Hendaklah perjanjian maupun kesepakatan dengan mereka tetap dipelihara. Dan yang diperangi itu hendaklah orang-orang kafir selain mereka (selain ahlidzimmah). Janganlah mereka dibebani dengan hal yang tidak dapat mereka pikul."

Baca Juga :
Sejarah Masjid Al Aqsa dan Dome Of Rock
Masjid Cordoba Di Masa Kejayaan dan Kemunduran Islam
Thalhah bin Ubaidillah ra. - Si Dermawan
Kelebihan Bulan Rabiulawal dan Peristiwa Badar
Niat Sholat Sunnah dan macamnya

Tags :
Islam, Bulan Dzulhijjah, Arab, Al Qur'an, Kalender Islam, Peristiwa Islam, Umar Bin Khattab, Muslim

Peristiwa Penting Di Bulan Dzulqa’dah

Tidak seperti yang terjadi pada bulan Syawal (bulan sebelum bulan Dzul Qa'dah) yang telah terjadi perang Uhud, pada bulan Dzul Qa'dah merupakan bulan masuknya haji, oleh karenanya kaum muslimin yang hendak melaksanakan haji telah berangkat ke Mekkah untuk melaksanakan umrah atau hajinya, saat ini kaum muslimin dari seluruh dunia memasuki kota Madinah dan Mekkah sebagai dua kota suci umat Islam.

Sama halnya dengan peristiwa peristiwa penting yang terjadi di bulan Syawal, pada bulan Dzul Qa'dah juga memiliki sejarah dan peristiwa penting yang layak untuk diketahui oleh kita-kita kaum muslimin.

Pada masa Rasulullah melaksanakan ibadah umrah terjadi perjanjian antara kaum muslimin dan kaum kafir Quraisy yang disebut dengan perjanjian Hudaibiyah. 

Peristiwa Penting di bulan Dzul Qa'dah
  • Umrah Rasulullah selalu dilaksanakan pada bulan Dzul Qa'dah, beliau melaksanakan umrah sebanyak empat kali yang bersamaan dengan hajinya, antara lain umrah Hudaibiyah (6H), umrah Qada' (7H), umrah Jiranah (8H), dan umrah dengan haji Wada'.
  • Abu Tholib wafat pada awal bulan ini, ketika Rasulullah bersama dengan pengikutnya keluar dari pengisolasian kaumnya.
  • Rasulullah menunjukkan kepada para qabilah pada musim haji dan menemui mereka (tahun 11 kenabian)yang datang ke Mekkah dan Bani Khazraj di Aqabah mereka masuk Islam dan berbai'at kepadanya, berjanji untuk setia dan senasib sepenanggungan dalam suka dan duka dan berjanji untuk menyeru kaumnya di Madinah.
  • Pada tahun berikutnya, terjadi Baiat Aqabah 1 (12 kenabian), dimana Rasulullah telah menepai janjinya pada musim itu kepada 12 orang laki-laki dari kaum Anshor. 9 orang dari suku Khazraj dan 3 orang dari suku Aus. Dan Rasulullah mengutus Musha'b bin Umair bersama Abdullah bin Ummu Maktum ke Madinah untuk mengajarkan Al-Quran di kota baru.
  • Perang Bani Quraidzah, dari suku Yahudi (5H), perang ini terjadi setelah perang Khndaq, sebelum Rasulullah melepaskan baju perangnya.
  • Abu Musa al-Asya'ri, Muadz bin Jabal di utus ke Yaman (10H)
  • Nabi melaksanakan Hajo Wada'
  • Peristiwa al-Farad (yakni perkemahan di Syam, Irak dan jazirah), pada saat itu pasukan Romawi dan Persia, suku-suku Tagleb, alat pelempar dan macan, mereka semua di serang oleh Khalid bin Walid dan mereka banyak mati terbunuh (12H/634)
  • Muawiyah bin Abi Sufyan menjadi Khalifah (37H)
  • Wafatnya Syeikhul Islam Ibnu Taymiyah (72 H /27/9/1328)
  • Perang Malazkard (26/8/1071 M) dimana kaum muslimin Saljuk di bawah pimpinan Alp Arselan berhasil merebut kota suci dari Kaisar Romanus. Disinilah kemenagnan kaum muslimin dengan menghapuskan kekuasaan Byzantium dan kemudian mendirikan kerajaan Islam di Asia kecil.
Baca Juga :

Tags :
Islam, Bulan Dzulqa'dah, Kalender Islam, Peristiwa Islam, Nabi, Perang Uhud, Rasullulah, Arab, Madina,Yaman, Al Qur'an, Perang Malazkard, Muslimin, bulan Dzul Qa'dah

Rasulullah Sebagai Teladan

Hijrahnya Nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah adalah peristiwa besar bagi kaum Muslimin. Peristiwa hijrahnya Nabi juga menjadi awal dibuatnya kalender Islam dan diperingati sampai saat ini. Hijrahnya Nabi bukan sekadar berpindah tempat seperti halnya imigran. 

Dan juga bukan menjauhkan diri dari siksaan kaum kafir Quraisy. Hijrahnya Nabi penuh pengorbanan dan perjuangan. Nabi berhijrah dalam upaya menyelamatkan dakwah Islam dari rongrongan kafir Quraisy. 

Pada hakikatnya, hijrah merupakan titik tolak bagi dakwah dan peradaban. Melalui peristiwa hijrah, Rasulullah membangun kesatuan umat dalam ketaatan, kekuatan, dan keamanan Islam yang karenanya Islam dan kaum Muslimin dimuliakan. 

Rasulullah menjadi khalifah (pemimpin) menerapkan sistem Islam yang merujuk pada Alquran dan sunah sehingga umat menunaikan ketaatan, mencapai kesejahteraan, keamanan, dan keadilan serta menjadi hamba yang mulia. 

Kepemimpinan Nabi-lah yang patut menjadi teladan bagi seorang pemimpin saat ini.

Sumber: Republika.co.id

Baca Juga :
Kisah Sahabat Nabi Umar bin Khaththab RA
Ciri-Ciri Wanita Solehah Menurut Al-Quran
Adab Bertamu Dan Menerima Tamu Dalam Islam
Kisah Nabi Yusuf AS
Dahsyatnya Membaca Surat Al Ikhlas

Tags : Islam, Muslim, Nabi, Nabi Muhammad, Dakwah, Rasulullah, kafir Quraisy, kalender Islam, Hijrah

Peristiwa Penting di Bulan Syawal

Dalam rentang sejarah dakwah Rasulullah SAW, cukup banyak peristiwa penting yang terjadi ketika Syawal. Ida Fitri Shohibah menyarikannya dalam uraian singkat. Kebanyakan merupakan peperangan, sedangkan sisanya, antara lain, pernikahan Rasulullah SAW dan kelahiran ilmuwan besar, Imam Bukhari. Sedikitnya, ada enam medan jihad yang bertepatan dengan bulan Syawal.

Pertama, Perang Uhud yang pecah pada 15 Syawal, yakni tiga tahun setelah hij rah nya Nabi SAW. Sebanyak 700 pasukan Muslim berhadapan dengan sekitar 3. 000 pasukan musyrik. Awalnya, umat Islam mendominasi jalannya pertem puran. Orang-orang musyrik terdesak sehingga meninggalkan harta benda yang me reka bawa. Di sinilah sekelompok pasukan Muslim yang bertugas sebagai pemanah di puncak-puncak bukit lengah.

Mereka lantas turun meskipun sebelum nya Rasulullah SAW telah berpesan agar mereka tetap bertahan, apa pun yang terjadi di tengah medan laga. Khalid bin Walid, yang waktu itu masih kafir, dan anak buahnya melihat celah untuk menyerang balik. Akhirnya, barisan Muslimin kocar-kacir. Bahkan, Rasulullah SAW mengalami luka-luka yang cukup pa rah. Alquran surah Ali Imran ayat 121 turun berkenaan dengan peristiwa ini.

Kedua, Perang Bani Qainuqa yang terjadi pada Syawal tahun kedua hijrah. Kali ini, umat Islam Madinah menghadapi fitnah yang dilancarkan kaum Yahudi. Lantaran kejahatan dan pengkhianatan kaum Yahudi itu sudah keterlaluan, Rasulullah memutuskan mengusir mereka dari Madinah. Beliau memimpin pasukan Muslim untuk menghalau mereka keluar.

Ketiga, Perang Bani Sulaim yang terjadi pada Syawal juga di tahun kedua hijrah. Lokasinya ada di Kudri. Saat itu, ada sekitar 200 orang pasukan Muslim yang berarak menuju Qarqarah al-Kadri. Rasulullah memimpin mereka dalam menghadapi Bani Sulaim dan Gathafan. Namun, musuh-musuh Islam itu pada akhir nya melarikan diri.

Keempat, Perang Khandaq yang berlangsung pada Syawal, lima tahun setelah hijrah. Ini merupakan kali pertama perang dengan strategi yang dicetuskan seorang Persia-Muslim, Salman al-Farisi. Di negerinya, kubu-kubu menciptakan parit yang dalam dan lebar guna menghalau pasukan musuh. Rasulullah menyetujui ide ini setelah berunding dengan para sa habat, termasuk Salman. Bahkan, Ra sulullah dengan tangannya sendiri ikut ber sama- sama membangun parit perta hanan itu.

Total pasukan Muslim menca pai 3. 000 orang, sedangkan pasukan seku tu kaum musyrik sebanyak seribu orang. Dalam perang ini, kubu musyrikin me ngalami kekalahan karena diterjang angin puyuh setelah menunggu lama di luar parit.

Kelima, Perang Hunain, terjadi pada tahun kedelapan Hijriyah pada Syawal. Saat itu, kaum Muslim menghadapi suku Hawazin dan suku Tsaqif. Dua pekan lamanya Perang Hunain berlangsung setelah Rasulullah berhasil memimpin kaum Muslim dalam menaklukkan Makkah tanpa pertumpahan darah. Dengan demikian, pasukan Muslim di medan Hunain cukup diuntungkan dengan kondisi men tal yang penuh kegemilangan. Dari total 12 ribu pasukan Muslim, sebanyak 2. 000 di antaranya berasal dari dukungan Quraisy Makkah. Hasilnya, Perang Hunain dimenangkan kaum Muslim.

Keenam, pengepungan Thaif yang meru pakan imbas dari Perang Hunain. Di sini, sisa-sisa kekuatan suku Hawazin dan Tsaqif yang berhasil melarikan diri dari Perang Hunain bertahan di benteng yang cukup kuat. Namun, pasukan Muslim meng gempur benteng tersebut dengan pelbagai pesenjataan, termasuk pelempar batu (manjaniq) dan pendobrak (dab babah).

Dalam Syawal, hal istimewa lainnya adalah berlangsungnya pernikahan Nabi Mu hammad SAW dengan Ummul Mu`minin, `Aisyah. Pada bulan Syawal pula, Rasulullah SAW menikah dengan Ummu Salamah.

Kejadian lainnya yang patut dicatat adalah kelahiran Imam Bukhari. Pada Syawal 194 Hijriyah, sosok ini lahir. Sepanjang hayatnya, beliau amat berjasa dalam merealisasikan kompilasi hadis- hadis Nabi SAW. Karyanya, Shahih al- Bukhari,masih menjadi rujukan utama hingga saat ini. Uniknya, guru Imam Muslim ini juga wafat pada bulan Syawal, tepatnya di malam Idul Fitri 256 Hijriyah. Jasadnya dimakamkan di Samarkand usai shalat.