Friday, 8 September 2017

Saat Oksigen Dikisahkan Dalam Al Quran

Oksigen sangat dibutuhkan oleh manusia, bahkan hewan pun membutuhkan oksigen. Oksigen merupakan unsur paling melimpah ketiga di alam semesta berdasarkan massa, dan bahkan merupakan unsur paling melimpah di kerak Bumi.

Makhluk hidup perlu oksigen, ini membuktikan oksigen sangat penting. Maka tak heran bila Allah Ta’ala mengisahkan oksigen dalam Alquran.

Oksigen secara terpisah ditemukan Carl Wilhelm Scheele di Uppsala tahun 1773 dan Joseph Priestley di Wiltshire tahun 1774. Temuan Priestley lebih terkenal karena publikasinya merupakan yang pertama kali dicetak. Beberapa tahun setelahnya, istilah oksigen diciptakan Antoine Lavoisier tahun 1777 karena eksperimennya dengan oksigen berhasil meruntuhkan teori flogiston tentang pembakaran dan korosi yang terkenal.

Menurut massanya, oksigen merupakan unsur kimia paling melimpah di biosfer, udara, laut, dan tanah bumi. Namun, oksigen hanya melimpah di Bumi saja dan sangat jarang ditemui di planet lain. Matahari hanya mengandung 0,9 persen oksigen, Mars hanya memiliki 0,1 persen oksigen dan Venus bahkan memiliki kadar konsentrat yang lebih rendah.

Hal itu disebabkan oksigen yang berada di planet-planet selain Bumi hanya dihasilkan dari radiasi ultraviolet yang menimpa molekul-molekul beratom oksigen, misalnya karbon dioksida. Inilah alasannya mengapa membawa oksigen dalam perjalanan ke luar angkasa merupakan suatu kemestian.

Hal ini diterangkan dalam Alquran, “Siapa yang dikehendaki Allah menunjukinya, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk memeluk Islam. Siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Dia menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit.” (QS al-An’am [6]: 125).

Bagaimanakah Alquran mengemukakan sebuah teori bahwa di luar angkasa kadar oksigen sangatlah kurang? Padahal dalam ilmu pengetahuan ilmiyah, istilah oksigen baru saja ditemukan tahun 1773. Tentu saja itu bukan suatu yang mustahil bagi orang yang mengimani bahwa Alquran merupakan kalamullah. Alquran adalah perkataan Rabb yang menciptakan oksigen, tata surya, dan alam semesta ini.

Lebih lanjut lagi, Alquran juga membahas bagaimana oksigen bisa terbentuk. Ilmu pengetahuan modern mengatakan, oksigen dihasilkan oleh fotosintesis tumbuh-tumbuhan. Tanpa adanya tanaman yang berfotosintesis, oksigen akan lenyap dari bumi. Itu pulalah alasannya mengapa hutan-hutan di bumi disebut paru-paru dunia.

Dalam Alquran disebutkan, “Tidakkah kamu perhatikan api yang kamu nyalakan. Kamukah yang menjadikan pohon itu atau Kami yang menjadikannya?” (QS al-Waaqi’ah [56]: 71-72).

Dalam ayat ini, mengapa Allah SWT menyebutkan kata “pohon” (syajarah) bukan disebut kayu (khusyub)? Biasanya orang menyalakan api dari kayu, bukan pohon. Lalu, apa pula kaitannya antara menyalakan api dan pohon?

Alquran menyatakan sebuah rumus fisika yang saat ini dikenal dalam ilmu pengetahuan modern, “6CO2 + 6H2O + sinar matahari + klorofil = C6H12O6 + 6O2.” Alquran menjelaskan, terbentuknya oksigen berasal dari sinar matahari, karbon dioksida, dan klorofil yang berasal dari pohon untuk melakukan fotosintesis. Salah satu unsur terbentuknya oksigen diperlukan kehadiran pohon yang hidup.

Tahapan selanjutnya, bisakah api menyala tanpa adanya oksigen? Jawabannya tentu saja tidak. Inilah dimaksudkan dalam ayat ini. “Tidakkah kamu perhatikan api yang kamu nyalakan?” (QS al-Waaqi’ah [56]: 71).

Ayat ini langsung bersambung dengan pertanyaan Allah SWT, “Kamukah yang menjadikan pohon itu atau Kami yang menjadikannya?” (QS. Al-Waaqi’ah [56]: 71-72).

Allah SWT ingin menyampaikan bahwa oksigen sebagai unsur yang menjadikan terbentuknya api tersebut berasal dari pohon. Tanpa adanya fotosintesis dari pohon-pohonan, tak akan ada zat yang bernama oksigen. Siapakah yang menumbuhkan pohon tersebut? Tentu hanya Allah SWT yang bisa.

Lebih rinci lagi, Allah SWT juga menjelaskan proses terbentuknya oksigen secara lebih mendalam dalam surah Yasin [36]: 80. “Yaitu, Rabb yang menjadikan untukmu api dari pohon yang hijau. Maka, tiba-tiba kamu nyalakan daripadanya.”

Ayat ini bercerita tentang warna pohon, yaitu akhdar (hijau). Ilmu pengetahuan modern menyebut zat hijau daun dengan istilah klorofil, yaitu aktor yang melakukan fotosintesis pada tumbuhan. Tanpa klorifil, tumbuh-tumbuhan tak akan mampu berfotosintesis dan selanjutnya menghasilkan oksigen.

Istilah fotosintesis baru dikumandangkan oleh ilmuwan modern pada abad ke-18. Namun, cara kerja dan urgensi dari fotosintesis ini sudah diterangkan Alquran 15 abad yang lalu.

Demikianlah sedikit ulasan mengenai bagaimana Allah mengisahkan Oksigen dalam Al-Quran. Tanpa adanya oksigen, kita semua tidak bisa hidup di dunia ini. Betapa besarnya nikmat yang Allah anugerahkan kepada kita, jadi sudah sepatutnya bila kita terus mengucap syukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Baca Juga :
Mengambil Pelajaran Dari Perang Uhud
Definisi dan Pengertian Sukses Menurut Islam
Al-Qur’an Berbicara Tentang Keajaiban Air
Keistimewaan Menjenguk Orang Sakit Dalam Islam
Masyaallah, Ternyata Surat Al-Mulk Memiliki Faedah Luar Biasa

Wednesday, 6 September 2017

Istiqamah pada Jalan Agama di Zaman Fitnah

Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Akan datang tahun-tahun penuh dengan kedustaan yang menimpa manusia, pendusta dipercaya, orang jujur didustakan, amanat diberikan kepada penghianat, orang yang jujur dikhianati, dan ruwaibidhah turut berbicara. Rasulullah lalu ditanya: Apakah ruwaibidhah itu? Ia menjawab: Orang-orang bodoh yang mengurusi urusan perkara umum.” ~Riwayat Ibnu Majah~

Fenomena akhir zaman

Sejak teknologi internet kian berkembang secara luas, pola interaksi dan komunikasi di antara manusia semakin mudah. Seolah tanpa sekat, teknologi tersebut kini menembus ruang dan waktu dalam kehidupan manusia. Dampaknya, kini manusia begitu mudah mengakses setiap berita dan bahan yang dibutuhkan. Bahkan tak sedikit informasi justru yang datang sendiri tanpa dicari. Ia begitu saja mampir di dinding atau grup-grup media sosial (medsos) yang ada.

Masih segar dalam ingatan, sebuah berita yang mampir di sebuah grup percakapan yang penulis ikuti. Dalam berita tersebut terlampir pula foto seorang jenazah perempuan yang dikabarkan wafat akibat musibah crane di wilayah Masjidil Haram, beberapa waktu silam. Dalam foto, digambarkan sang wanita meninggal dalam keadaan tersenyum.

Dengan perasaan iba bercampur takjub, tanpa pikir panjang penulis ikut membagi (share) berita sekaligus foto itu seraya berharap bisa mendapat kebaikan yang sama, meninggal dalam keadaan husnul khatimah.

Hanya selang sesaat, tiba-tiba dan tanpa diminta pula, sebuah berita berbeda mampir kembali menghiasi layar smartphone penulis. Kali ini dengan berita sebaliknya. Bahwa berita dan foto jenazah perempuan asal salah satu warga Malaysia hanya hoax alias kabar bohong. Sebab, foto itu adalah acara pelatihan merawat jenazah di salah satu Negara bagian Malaysia.

Istiqamah dalam Beragama

Imam at-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Ummayah asy-Syabani, ia berkata: “Aku pernah mendatangi Abu Tsa’labah al-Khusyani dan bertanya kepadanya: Bagaimanakah mengamalkan ayat ini? Ia lalu balik bertanya: Ayat yang mana? Aku berkata: Firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan” (Surah al-Maidah [5]: 105). Ia menjawab: Demi Allah, sesungguhnya aku telah menanyakan hal itu kepada orang yang benar-benar mengerti. Aku pernah menanyakan hal itu kepada Rasulullah Saw, maka Nabi menjawab: Bahkan hendaklah kalian saling menyuruh berbuat makruf dan saling mencegah kemungkaran, sehingga jika engkau melihat kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dunia yang diutamakan, dan kekaguman setiap orang kepada pendapatnya. Hendaklah engkau menjaga dirimu sendiri dan tinggalkanlah orang-orang awam, karena di belakang kalian masih ada hari-hari yang panjang. Orang yang sabar di dalam hari-hari itu tidak ubahnya seperti orang yang menggenggam bara api.” (Riwayat at-Tirmidzi).

Jauh hari, rupanya Rasulullah telah memberi petunjuk terang kepada umat Islam bagaimana menyikapi persoalan fitnah akhir zaman tersebut. Saat di mana sebuah keburukan bisa terlihat baik dengan bungkus yang menarik. Saat manusia begitu sulit memilah antara yang halal ataupun yang haram. Oleh Nabi, umat Islam lalu diajari dan diberi panduan, tetaplah istiqamah kepada ajaran agama. Kenalilah semuanya dengan cara mengembalikan persoalan kepada al-Qur’an, kembali ke al-Hadits, ijma’, kita ikuti ulama-ulama, insyaAllah, kita tak akan pernah menjadi orang bingung .

Akhir kata, mari kita semua bersyukur sebagai seorang Muslim atas karunia iman dan Islam ini. Di saat fitnah akhir zaman kian canggih mengganas, kita juga patut bersyukur karena hari ini mushaf dan tafsir al-Qur’an serta kitab-kitab al-Hadits begitu mudah didapat. Penjelasan para ulama tentang sebuah persoalan begitu gampang diakses dan dibaca. Sebab, tak ada agama manapun di dunia yang mengatur kehidupan; dari urusan WC hingga bernegara, bahkan tanda-tanda kiamat, kecuali agama kita, agama Islam yang diridhoi Allah Subhanahu Wata’ala.

Namun, satu pertanyaan yang tersisa, adakah kita mau mempelajarinya? Atau sekedar menjadikannya pajangan di lemari-lemari buku di rumah. Adakah kita bangga sebagai Muslim karena memang paham dan melaksanakan ajarannya? Ataukah ia sekedar identitas formal yang melekat di kartu pengenal kita?

Ciri Muslim itu Gemar Beramal Sholeh

Satu ciri Muslim sejati yang Allah ulang-ulang di dalam kitab-Nya adalah mau beramal sholeh. Sebagaimana makna iman yang umum dipahami, yakni membenarkan dengan hati, lisan dan mengaktualisasikannya di dalam perbuatan.

Nabi Muhammad Shallallahu Alayhi Wasallam beserta para sahabatnya sangat gemar melakukan yang namanya amal sholeh. Dan, sebagai pengikutnya sudah semestinya kita juga mengikuti apa yang telah ditauladankan Nabi dan sahabat-sahabatnya.

Namun, sebelum kita membahas amal seperti apa yang terkategori amal sholeh, satu pertanyaan penting yang mesti dijawab adalah, seberapa pentingnya amal sholeh dalam kehidupan seorang Muslim?

Prof. Dr. Ali Muhammad Shalabi dalam bukunya “Shirah Amirul Mukminin Ali bin Abi Tholib”mengutip salah satu khutbah suami dari Siti Fatimah Az-Zahrah itu.

“Sesungguhnya, dunia ini telah memalingkan punggungnya dan memaklumkan perpisahannya, sementara akhirat (kematian) telah muncul ke depan dan memaklumkan kedekatannya. Sekarang adalah hari persiapan, sedang besok adalah hari perlombaan. Tempat yang dituju ialah surga sedang tempat kembali adalah neraka. Tak adakah seorang yang akan bertaubat atas kesalahannya sebelum kematiannya? Atau, tak adakah seseorang yang hendak berbuat kebajikan sebelum hari ujian?
Ingatlah, Anda berada di hari-hari harapan dan di baliknya berdiri kematian. Barangsiapa beramal (sholeh) dalam hari-hari harapannya sebelum datang kematiannya, amalnya akan bermanfaat baginya dan kematiannya tidak akan merugikannya. Tetapi, orang-orang yang tidak beramal (sholeh) dalam masa harapannya sebelum datang ajalnya, amalnya adalah sia-sia dan kematiannya adalah suatu kemudaratan baginya.”

Pemahaman seperti itulah yang tumbuh dan berkembang dalam diri Nabi dan para sahabat, hingga menjadi karakter dan sistem kesadaran yang mengakar, sehingga orientasi hidupnya memang satu, akhirat dan untuk itu amal sholeh tak bisa dipisahkan dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Ruang Lingkup

Dimana amal sholeh dilaksanakan, di sana iman ditegakkan. Oleh karena itu, ruang lingkup amal sholeh sangatlah luas.

Rasulullah Shallallahu Alayhi Wasallam bersabda;

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ شُعْبَةً أَفْضَلُهَا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَوْضَعُهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنْ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ

“Keimanan itu memiliki tujuh puluh sekian cabang, sebaik-baiknya adalah ucapan La ilaaha illallah, dan yang paling sederhana adalah mengyingkirkan bahaya dari jalan. Malu merupakan salah satu cabang dari keimanan.” (HR. Muslim).

Pantas jika kemudian, Sayyidina Ali bin Abi Thalib mengungkapkan bahwa, “Nilai diri seseorang terletak pada kebaikan (amal sholeh) yang dilakukan.”

Dengan kata lain, amatlah banyak kebaikan (amal sholeh) yang bisa dilakukan. Misalnya, seorang ayah yang berangkat pagi, pulang malam untuk menafkahi keluarga dengan cara halal, itu amal sholeh.

Demikian pula, jika seorang ayah tadi dalam kesehariannya, ke kantor dan pulang ke rumah menggunakan sepeda motor, lalu berhati-hati dan mengikuti rambu-rambu lintas yang ada, sehingga dirinya tidak menjadi sebab terganggunya pengendara lain, maka sungguh dia telah beramal sholeh.
Begitu pula jika, sang ayah tadi banyak memberikan kesempatan pengendara lain untuk mendahului atau lewat di depannya kala ada persimpangan, sungguh ia telah memudahkan orang lain, dan insha Allah itu juga amal sholeh.

Subhanallah, andaikata seorang Muslim tidak bisa kemana-mana, lalu ia tersenyum kepada anggota keluarga, tetangga atau siapapun yang sempat ia lihat dalam waktu itu, baginya juga pahala. Karena tersenyum kepada sesama adalah bagian dari iman dan itu adalah amal sholeh.

Rasulullah bersabda;

أبي ذرّ رضي الله عنه قال : قالَ لي النبي صلى الله عليه و سلم : لاَ تَحْقِرَنَّ منَ المعْرُوفِ شَيْئاً ولوْ أنْ تَلْقَ أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ)).

“Dari Abi Dzar radhiallahu anhu, Rasulullah bersabda: “Janganlah kamu meremehkan kebaikan sekecil apapun, sekalipun engkau bertemu saudaramu dengan wajah yang berseri.” (HR. Shohih Muslim: 6637.)
قَوْلٌ مَعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِنْ صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا أَذًى ۗ وَاللَّهُ غَنِيٌّ حَلِيمٌ

“Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.” [QS: Al-Baqarah; 263]

Dan, sungguh amal sholeh lainnya masih sangat banyak dengan beragam bentuk amalan. Mulai dari sedekah, menuntut ilmu, mengajarkan ilmu, membantu urusan kaum Muslimin, mendirikan masjid, memperbaiki jalan yang rusak, mendirikan rumah sakit, hingga menegakkan hukum secara adil.

Dari sini dapat kita pahami bahwa jalan ke surga-Nya, itu mudah dan bisa kita lakukan kapan saja dalam wujud kebaikan apapun. Dan, terpenting, amal sholeh itu akan menguatkan keimanan di dalam hati.

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُواْ وَعَمِلُواْ الصَّالِحَاتِ يَهْدِيهِمْ رَبُّهُمْ بِإِيمَانِهِمْ تَجْرِي مِن تَحْتِهِمُ الأَنْهَارُ فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal sholeh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya, di bawah mereka mengalir sungai- sungai di dalam syurga yang penuh kenikmatan.” (QS. Yunus [10]: 9).

Menurut Ibn Katsir, ayat tersebut adalah kabar gembira bagi orang-orang yang bahagia, yakni mereka yang beriman kepada Allah Ta’ala, membenarkan para Rasul, melaksanakan apa yang diperintahkan, lalu mereka pun melakukan amal sholeh, bahwa sesungguhnya Allah akan memberi petunjuk kepada mereka karena keimanan mereka.

Semoga Allah menguatkan hati kita untuk senantiasa mengisi hari-hari kita di dunia ini, selamanya untuk terus beramal sholeh. Aamiin.

Tekadkan Hati Untuk Melakukan Kebaikan

Rasanya nyaris semua orang terpelajar memahami bahwa untuk sukses, baik menjadi guru, pengusaha, trainer, atau profesi lainnya, rencana adalah bagian penting setelah hadirnya niat atau keinginan untuk sukses.

Namun demikian, terhadap hal iman, banyak yang biasa-biasa saja menyikapinya, sebagian besar juga tidak sedikit yang mengabaikannya.

Padahal, iman adalah perkara azasi, yang tidak ada perkara maha penting dalam hidup ini selain perkara iman.

Ketika ditanya apakah ada rencana untuk meningkatkan iman, hampir semua tidak memiliki jawaban jelas. Padahal, untuk hal tersebut, Imam Bukhari memberikan rumus, bagaimana meningkatkan iman dan mampu bertahan dalam keimanan itu, melalui 57 hadits yang beliau tulis di dalam bab iman.

Di sana termaktub apa yang harus dilakukan jika ingin menguatkan dan menyempurnakan iman alias rumus meningkatkan keimanan. Dan, tentu saja, semua harus masuk dalam daftar rencana hidup harian sepanjang hayat.

Beberapa di antaranya adalah berniat untuk tidak berkata atau bertindak melainkan kebaikan.

“Orang Islam itu adalah orang yang orang-orang Islam lain selamat dari lidah dan tangannya; dan orang yang berhijrah (muhajir) adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.” (HR. Bukhari).

Dalam rangka meningkatkan iman, hemat berkata-kata itu baik, apalagi jika dirasa semakin banyak bicara semakin berkurang manfaat dan keutamaan dari pembicaraan alias menyakiti sesama, diam jauh lebih baik. Jika ini tidak direncanakan, lisan bisa berkata-kata tanpa kendali.

Kemudian, memberikan makanan. “Islam manakah yang lebih baik?” Rasulullah bersabda, “Kamu memberikan makanan dan mengucapkan salam atas orang yang kamu kenal dan tidak kamu kenal.” (HR. Bukhari).

Suatu riwayat menarik berhasil dilakukan oleh Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Nampaknya semua amalan yang meningkatkan iman menjadi catatan penting dari agenda hidupnya setiap hari.

Abu Hurairah Radhiyallahu anhu menceritakan bahwa suatu hari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada para sahabatnya:

Siapakah diantara kalian yang berpuasa hari ini?’

Abu Bakar menjawab,’Saya.’

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Siapakah diantara kalian yang telah mengantar jenazah hari ini?’

Abu Bakar pun menjawab, ‘Saya.’

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali bertanya, ‘Siapakah diantara kalian yang telah memberi makan orang miskin hari ini?’ Abu Bakar menjawab lagi, ‘Saya.’

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih bertanya lagi, ‘Siapakah diantara kalian yang telah menjenguk orang sakit hari ini?’

Abu Bakar pun menjawab lagi, ‘Saya.’

Lalu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tidaklah amal-amal yang telah disebutkan tadi berkumpul pada satu orang, melainkan ia akan masuk Surga.” (HR. Muslim).

Hadits itu menunjukkan betapa seorang Abu Bakar memiliki agenda dalam hidupnya untuk melakukan banyak amalan sholeh. Dan, kita sendiri memahami, bahwa tidak akan ada amalan sholeh yang akan dilakukan oleh seseorang melainkan ia telah berniat lebih awal atau ada niat untuk benar-benar mengerjakannya.

Bagaimana orang yang melakukan itu semua tidak akan masuk Surga, sementara imannya terus meningkat alias bertambah dan terus bertambah. “Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk.” (QS. Maryam [19]: 76).

Terkait menambah keimanan ini, Mu’adz pernah berkata kepada kawan-kawannya, “Duduklah di sini bersama kami sesaat, untuk menambah keimanan kita.” Dengan demikian, iman haruslah direncanakan untuk senantiasa ditingkatkan, termasuk bersama teman-teman dalam pergaulan.

Hal di atas memang patut menjadi panutan diri setiap Muslim dalam mengisi kehidupan, sebab dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, iman berarti membenarkan yang bersifat khusus, yaitu pembenaran kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari akhir, serta pembenaran pada qadar (takdir) yang baik maupun buruk.

Apabila hal ini dilakukan, insya Allah akan didatangkan oleh-Nya di dalam qalbu kita rasa cinta pada keimanan.

وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ فِيكُمۡ رَسُولَ ٱللَّهِ‌ۚ لَوۡ يُطِيعُكُمۡ فِى كَثِيرٍ۬ مِّنَ ٱلۡأَمۡرِ لَعَنِتُّمۡ وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ حَبَّبَ إِلَيۡكُمُ ٱلۡإِيمَـٰنَ وَزَيَّنَهُ ۥ فِى قُلُوبِكُمۡ وَكَرَّهَ إِلَيۡكُمُ ٱلۡكُفۡرَ وَٱلۡفُسُوقَ وَٱلۡعِصۡيَانَ‌ۚ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلرَّٲشِدُونَ (٧)

“Tetapi Allah menjadikan kalian cinta kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hati kalian serta menjadikan kalian benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.” (QS. Al-Hujurat [49]: 7).

Kemudian menjadikan amal sholeh sebagai buruan pertama dan utama dalam setiap kesempatan dalam hidupnya.

أَنَّمَآ إِلَـٰهُكُمۡ إِلَـٰهٌ۬ وَٲحِدٌ۬‌ۖ فَمَن كَانَ يَرۡجُواْ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلۡيَعۡمَلۡ عَمَلاً۬ صَـٰلِحً۬ا وَلَا يُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦۤ أَحَدَۢا (١١٠)

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi [18]: 110). Wallahu a’lam

Jadilah Pribadi Sederhana

Seorang guru pernah bercerita perbedaan pandangan bagaimana menjadi pribadi sederhana. Satu orang mengatakan, sederhana itu seperti Nabi yang hidup dengan tidak begitu mementingkan duniawi. Bila tiba harta di tangannya, tak sampai esok semua harta itu telah habis dibagikan.

Satu lagi mengatakan, Nabi itu makannya kurma terbaik, minumnya susu kambing, konsumsinya daging kambing terbaik, pakaiannya pun wangi dan kendaraannya pun paling gagah.

Perbedaan sudut panang tentang sederhana itu pun terus berlangsung dan tidak ditemukan titik temu tentang bagaimana sebenarnya menjadi pribadi yang sederhana.

Namun, menurut Buya Hamka dalam bukunya Falsafah Hidup, orang yang sederhana adalah orang yang tidak terlalu condong, tidak juga terlalu rebah.

“Syahwat yang dibolehkan syara’ sekalipun, tidaklah melebihi mesti, ketika mengambil kesempatan dari keharusan itu. Misalnya boleh memakan makanan yang enak! Mentang-mentang harus (boleh) tidaklah dilahapnya lebih dari kekuatan perutnya” (halaman 168).

Lebih lanjut pengarang Tafsir Al-Azhar itu menegaskan, “Dibolehkan oleh syara’ beristri sampai berempat, asal saja sanggup, adil, dan mampu. Mentang-mentang mampu dia lupa kesanggupan dan keadilan, dia hanya ingat pada kemampuan, lalu dia beristri dua, tiga, dan empat, salah sedikit ceraikan satu, tingggalkan dua, ganti lagi, cari pula janda muda atau perawan yang lain. Akhirnya tidak ada kesempatan lagi baginya untuk mengurus rohaninya, hidup, jiwa, dan ibadahnya kepada Tuhan. Hanyalah mengurus giliran malam para istrinya. akhirnya anak-anaknya kocar-kacir.”

Islam menghendaki kehidupan yang sederhana, yang oleh Buya Hamka bisa disebut dengan istilah “istiqomah” yang berarti tegak lurus di tengah-tengah. Dan, “i’tidal” yang berarti sama berat.

Buya Hamka pun memberikan tuntunan bagaimana agar bisa menjadi pribadi sederhana, yakni dengan menjadi pribadi yang jujur.

“Kita harus jujur. Karena kejujuran itulah yang sederhana dan yang lurus. Kita tidak boleh bohong, kita mesti lurus, tak boleh menipu. Kita tidak boleh royal dan tidak boleh bakhil. Kita tidak boleh terlalu pendorong dan kita tidak boleh pengecut. Karena semuanya itu merusakkan tali hubungan kita dengan Allah dan dengan insan. Dan menghilangkan sederhana” (halaman 171).

Dengan demikian, sederhana dalam pribadi Nabi adalah hidup yang seimbang, sama berat, dan tegak lurus di atas landasan syariat. Apapun yang beliau lakukan adalah semata-mata menjalankan titah Ilahi, memberikan keteladanan yang ideal, sehingga tidak ada orang miskin yang bersedih karena Nabi orang yang pernah kaya raya. Juga tidak ada orang kaya yang merasa rugi, hanya karena Nabi pernah tidak makan hingga diganjal perutnya dengan batu.

Semua kondisi, kaya atau miskin disikapi secara sederhana alias tegak lurus dan sama berat. Prinsipnya bagaimana kemiskinan tetap menguatkan ketaqwaan. Dan, kekayaan tidak merusak ketaqwaan kepada Allah Ta’ala.

Buya Hamka kembali memberikan penjelasan. “Yang akan disederhanakan ialah iat dan tujuan, bukan bekas keluar. Banyak orang menyangka, lantaran seseorang berpakaian yang koyak dan murah atau rumahnya kurang indah, orang itu dikatakan sederhana. Kalau dari sana hendak diukur kesederhanaan, kita tidak akan bertemu hakikat yang sebenarnya.

Kita tidaklah dapat berpedoman kepada yang lahir menunjukkan kesederhanaan. Banyak orang-orang kaya yang termasyhur, terpandang, terkemuka dalam masyarakat. banyak pula penulis, penganjur, pengarang dan ahli seni yang tidak memperdulikan pakaiannya, rumah tangganya. Bukan karena loba tamak kepada uang dan ingin mengumpul-ngumpulkan harta. Bukan pula karena bakhil, tetapi oleh karena tidak sampai pikirannya hendak menimbang perkara-perkara yang berkecil-kecil.

Bagi mereka asal sudah dapat berkhidmat kepada umum, walaupun pakaian dan kediaman itu tidak bagus kelihatannya, sehingga tidak sepadan dengan kedudukannya yang ditinggikan orang, semuanya itu tidaklah menjadi kenangan kepada mereka.” 

Oleh karena itu, sederhana bukan pada bentuk lahir, bukan pada kemestian orang kaya dan masyhur saja, bukan pula kemestian si fakir dan papa saja. “(Tetapi) sederhana niat, sederhana tujuan, ialah tujuan segala manusia yang berakal,” tegas Buya Hamka (halaman 172).

Oleh karena itu, perhatikanlah kesederhanaan pada hal-hal berikut ini.

Pertama, sederhana dalam niat

“Tidak usah berniat hendak jadi raja. Tidak perlu bercita-cita jadi orang berpangkat dengan gaji besar, akan mengharapkan bintang yang akan dihiaskan di dada. yang perlu ialah meluruskan niat.

Sebagai makhluk hidup, kita harus berjasa kepada kehidupan. sebgai laki-laki kita harus tegak pada garis laki-laki. Sebagai manusia, kita harus mempunyai kemanusiaan. Jika telah cukup kemanusiaan, walaupun kaya atau papa, termasyhur atau tidak terkenal, semuanya hanya warna hidup belaka, bukan hakikat hidup. Hakikat hidup ialah, tujuan, niat suci dan sederhana itu.”

Kedua, sederhana dalam berpikir

“Supaya tercapai tujuan niat yang suci itu, dan teratur urusan hidup kita, tercapai keselamatan hidup di dunia yang fana, menjelang akhirat yang baka, hendaklah kita mementingkan pikiran kita sendiri.

Pikiran yang matang dapat membedakan yang gelap dengan yang terang, yang hak dengan yang batil. Dapat membuang jauh-jauh pendapat yang salah dan pendirian yang curang. Kalau tidak dengan pikiran yang teratur beres, tidaklah lahir kemanusiaan yang sempurna dan tidak pula akan maju langkah menuju kemuliaan dan ketinggian.

Yang amat berbahaya bagi hidup ialah pikiran yang tidak tegak sendiri, yang hanya berlindung atau terpengaruh oleh pikiran orang lain. Kekuatan hanya apabila ditolong orang lain. Tidak dapat dibiarkan hidup sendiri. Tak ubahnya dengan rumput yang tumbuh di bawah naungan pohon beringin, hidup segan mati tak mau, sebab dia tidak mendapat cahaya yang langsung dari matahari.”

Jadi, berpikirlah sederhana dan selalulah menjaga tiga hal, yakni tawakkal kepada Allah, menghidupkan cita-cita dalam hati, dan berbaik sangka kepada sesama manusia.

Ketiga, sederhana keperluan hidup.

Buya Hamka menuliskan hal ini, “Dapat makan dua kali sehari, pakaian dua persalinan, rumah yang cukup udaranya untuk tempat diam, dapat menghisap udara dan bergerak, kita sudah dapat hidup. Cuma nafsu jugalah yang meminta lebih dari itu, sehingga di dalam memenuhi keperluan hidup, kerapkali manusia lupa akan kesederhanaan” (halaman 189).

Selanjutnya dijelaskan, “Kalau kita perturutkan saja kehendak nafsu, tidak kita beri batas perjalanannya supaya sederhana, tidaklah nafsu itu akan berujung. Padahal jika kita terima apa yang ada, sabar dan tahan hati, dan berusaha menghindarkan pengangguran, maka nafsu itu akan menerima berapapun yang ada.”

Kemudian, Buya Hamka memberikan ilustrasi, “Binatang apabila telah kenyang perutnya, akan terus tidur, istirahat. Tetapi manusia, walaupun telah kaya, bertambah kaya, bertambah tidak senang hidupnya. Bahkan bertambah tamak dan lobanya, bertambahlah sayang akan bercerai dengan harta.”

Dengan sederhana seperti itu seseorang akan selamat dari jeratan hawa nafsu, memburu yang semu dan menanggalkan yang hakiki. Oleh karena itu, sederhanalah dalam hidup, karena sederhana itulah yang dibutuhkan semua manusia, dan sangat penting untuk dididikkan kepada generasi muda. Wallahu a’lam.

Kesederhanaan Makan Rasulullah

Jika kita amati, mengapa penyakit di zaman dahulu tidak separah dan tidak seberat manusia modern. Apa sebab?

Ternyata jawabannya terletak pada seberapa sederhana seseorang mengkonsumsi makanan hariannya.

Hal ini sebenarnya telah dicontohkan oleh Baginda Rasulullah sallallahu ‘alaihiwasallam. Beliau begitu sederhana dalam urusan makanan yang beliau konsumsi yang akhirnya membuat beliau menjadi manusia yang sangat sehat, baik secara fisik maupun secara qolbu.

Hal ini sebenarnya dapat kita praktekkan dalam kehidupan sehari-hari, artinya kesederhanaan seseorang dalam mengkonsumsi makanan hariannya lah yang menenetukan sedikit banyak penyakit, yang kalaulah itu menjadi takdir untuknya, meski hal ini belumlah menjadi faktor penentu 100 persen.

Namun, jika kita mencontoh Rasulullah, ya benar sekali, beliau tak pernah kenyang selama hidupnya, bahkan beliau lebih banyak dan lebih sering lapar daripada kenyang atau kekenyangan, karena memang salah satu penyebab lemahnya iman seseorang adalah banyaknya makanan.

Yah, percaya, wisata kuliner dan berbagai ragam makanan masa kini plus dengan berbagai bahan-bahan sintetik didalamnya, sangat mengundang selera manusia untuk mengkonsumsinya, tapi sebenarnya insan yang bijak adalah insan yang memperhatikan sekali apa yang masuk ke dalam perutnya, sehingga semakin sederhana makanan yang ia konsumsi dan semakin alami, maka semakin kecil peluang ia mendapatkan sakit yang berat.

Jadi ya, jangan tanya kenapa banyak mengalami keluhan dan sakit sakit yang sedikit banyak menganggu aktifitas sehari-hari jika yang dikonsumsi adalah makanan “sampah” atau makanan minuman yang memang tidak layak masuk ke dalam tubuh manusia.

Tinggal kita sendiri yang menilai, selama ini lebih banyak kita makan untuk memenuhi hawa nafsu lebih dominan atau justru makan benar benar hanya sekedar memuaskan lidah, bahasa sederhananya, enak di mulut, sampah di perut.

Agar Tidak Tertidur Ketika Khutbah Jumat

Beberapa dari kita mungkin pernah mengalami rasa kantuk ketika mendengar khutbah Jumat, bahkan tidak jarang ada yang sampai tertidur pulas. Berikut adalah beberapa tips yang insyaAllah mampu mengatasi rasa kantuk saat mendengar khutnah Jumat.
Tertidur Ketika Khutbah Jumat

Bisa jadi ketika khutbah Jumat, ada beberapa jamaah yang sangat mengantuk. Jika sampai tertidur ketika khutbah, tentu hal ini sangat tidak disukai oleh syariat. Seorang Ulama di kalangan tabi’in, Muhammad bin Sirin berkata,

كانوا يكرهون النوم والإمام يخطب ويقولون فيه قولا شديدا. قال ابن عون: ثم لقيني بعد ذلك فقال: تدري ما يقولون؟ قال: يقولون مثلهم كمثل سرية أخفقوا

“Mereka (para sahabat) membenci orang yang tidur ketika imam sedang berkhutbah. Mereka mencela dengan celaan yang keras.”

Ibnu Aun mengatakan, saya bertemu lagi dengan Ibnu Sirin. Beliau pun bertanya, “Apa komentar sahabat tentang mereka?” Ibn Sirin mengatakan, “Mereka (para sahabat) berkata, orang semisal mereka (yang tidur ketika mendengarkan khutbah) seperti pasukan perang yang gagal (tidak menang dan mendapatkan ghanimah).” [1]
Tips Mudah Menghalau Rasa Kantuk Saat Khutbah Jumat

Ada tips yang mudah dan insyaallah bisa segera menghilangkan rasa mengantuk ketika khutbah Jumat berlangsung, yaitu segera pindah tempat

1. Berpindah Tempat Duduk

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا نَعَسَ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الجُمُعَةِ فَلْيَتَحَوَّلْ مِنْ مَجْلِسِهِ ذَلِكَ

“Apabila kalian ngantuk pada hari Jumat, maka berpindahlah dari tempat duduknya.”[2]

Hikmahnya adalah perpindahan dan bergerak akan menghilangkan rasa ngantuk dengan mudah. Syaikh Muhammad Al-Mubarakfury menjelaskan hadits ini, beliau berkata,

ﻭﺍﻟﺤﻜﻤﺔ ﻓﻲ ﺍﻷﻣﺮ ﺑﺎﻟﺘﺤﻮﻝ ﺃﻥ ﺍﻟﺤﺮﻛﺔ ﺗﺬﻫﺐ ﺍﻟﻨﻌﺎﺱ

“Hikmah perintah untuk pindah tempat adalah pergerakan pindah akan menghilangkan rasa ngantuk.”[3]

2. Mandi sebelum berangkat shalat Jumat

Karena mandi memberikan rasa segar dan menghilangkan penat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

غُسْل يوم الجُمُعة واجبٌ على كلِّ محتل

“Mandi pada hari Jumat, wajib bagi setiap orang yang sudah baligh.”[4]

3. Berusaha fokus mendengarkan khutbah

Dengan cara menghadapkan muka ke arah khatib dam fokus memperhatikan khatib

Ibnu Mas’ud berkata,

قَالَ ابْنُ مَسْعُوْدٍ كَانَ رَسُولُ اللهِ إِذَا اسْتَوَى عَلَى الْمِنْبَرِ اسْتَقْبَلْنَاهُ بِوُجُوهِنَا.

“Jika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam sudah berdiri tegak di atas mimbar, maka kami langsung menghadapkan wajah kami ke arah beliau.”[5]

Untuk bisa fokus, perlu juga menghindari hal-hal atau perbuatan yang bisa melalaikan dari khutbah seperti memainkan ujung baju, mengelupas kuku, memainkan kunci dan lain-lain.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ مَسَّ الْحَصَى فَقَدْ لَغَ

“Barangsiapa yang memegang (memain-mainkan) batu kerikilberarti dia telah berbuat sia-sia.”[6]

4. Hindari duduk memeluk lutut

Karena ini adalah posisi yang bisa menyebabkan mengantuk

Muadz bin Jabal berkata,

أَن النَبيَ صَلى اللهُ عَليه وَسَلمَ نَهَى عَنْ الْحَبْوَةِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang duduk memeluk lutut pada hari ketika imam sedang berkhutbah.”[7]

Imam Al-Khattabi menjelaskan hadits ini, beliau berkata,

نهى عنها لأنها تجلب النوم فتعرض طهارته للنقض، ويمنع من استماع الخطبة

“Perbuatan ini dilarang, karena ini bisa menyebabkan ngantuk,sehingga bisa jadi wudhunya batal (jika tertidur sangat pulas, adapun hanya tidur ringan maka tidak batal, pent), dan terhalangi mendengarkan khutbah.”[8]

Demikian semoga bermanfaat []

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen
Artikel Muslim.or.id

Catatan kaki:
[1] Tafsir al-Qurthubi 18/117, Darul Kutub Al-Mishriyah, Koiro, cet.II, syamilah
[2] HR. Abu Daud, Tirmidzi dan dishahihkan Al-Albani
[3] Lihat Tuhfatul Al-Ahwadzi karya Al-Mubarakfury
[4] HR. Bukhari dan Muslim
[5] HR. At-Tirmidzi no. 509 dishahih oleh Al-Albani di Shahih At-Tirmidzi
[6] HR. Muslim
[7] HR. Abu Daud, Tirmidzi dan dihasankan al-Albani
[8] Al-Majmu’ 4/592, syamilah