Wednesday, 6 September 2017

Ini Manfaat Memiliki Jenggot

Bagi Muslim, menumbuhkan jenggot merupakan salah satu sunnah yang diajarkan Rasulullah SAW. Jenggot juga merupakan salah satu tren di kalangan pria untuk memperindah penampilan. Tak heran, cukup banyak pria yang tergoda untuk menumbuhkan jenggot mereka hingga cukup lebat.

Memiliki jenggot lebat ternyata tak hanya menunjang penampilan tetapi juga memberi manfaat bagi kesehatan. Tim peneliti University of Queensland mengatakan jenggot lebat dapat melindungi pria dari paparan sinar UV berbahaya yang dapat menyebabkan kanker kulit.

Untuk mencapai kesimpulan ini, tim peneliti melakukan percobaan dengan menggunakan manekin. Tim peneliti menambahkan rambut wajah tambahan pada masing-masing manekin dengan jumlah rambut yang berbeda-beda.Seluruh manekin ini lalu diletakkan di bawah pancaran sinar matahari. Setelah itu, tim peneliti melakukan pengukuran kadar radiasi yang terserap oleh masing-masing manekin.

Hasil percobaan menunjukkan bahwa manekin dengan jenggot terlebat mendapatkan perlindungan paling optimal dari apparan sinar UVA maupun UVB. Ahli dermatologi Dr Anil mengatakan proteksi sinar UV yang diberikan jenggot ini sangat bergantung pada ketebalan dan kepadatan jenggot.

“Diperlukan lebih banyak studi. Akan tetapi bukti-bukti saat ini mengindikasikan bahwa rambut wajah dapat memberi perlindungan terhadap kerusakan kulit akibat matahari,” kata Anil seperti dilansir dari NetDoctor, Ahad (3/9).

Meski dapat memberi perlindungan, tim peneliti yang diketuai Profesor Parisi ini menyarankan agar jenggot tak dijadikan sebagai alternatif tabir surya. Meski memiliki jenggot yang lebat, beberapa area lain seperti hidung, pipi hingga kening tetap membutuhkan perlindungan tabir surya dengan SPF.

Area-area wajah tersebut penting untuk dilndungi karena dinilai paling berisiko terhadap ancaman kanker kulit. Kanker kulit biasanya menjadi lebih agresif jika terdapat pada area-area wajah ini.

Di samping dapat memberi perlindungan dari sinar UV yang berbahaya, jenggot juga dapat membuat pria lebih awet muda. Hal ini karena paparan sinar UV yang lebih rendah dapat menunda proses penuaan dan menjauhkan kulit di balik jenggot dari kerutan.

Penjelajah Muslim Dari Tiongkok Laksamana Cheng Ho

Sekitar tahun 1930-an, sejarah kehebatan seorang laksamana laut asal Tiongkok pada abad ke-15 mulai terkuak. Adalah batu prasasti di sebuah kota di Provinsi Fujian, Cina yang bersaksi dan mengisahkan jejak perjalanan dan petualangan seorang pelaut andal dan tangguh bernama Cheng Ho atau Zheng He.

Catatan perjalanan dan penjelajahan yang luar biasa hebatnya itu tak hanya memiliki arti penting bagi bangsa Cina. Jejak hidup Laksamana Cheng Ho juga begitu berarti bagi umat Islam dan bangsa Indonesia. Seperti halnya, petualang hebat dari Maroko, Ibnu Battuta, Cheng Ho pernah singgah di Nusantara dalam ekspedisinya.

Matt Rosenberg, seorang ahli geografi terkemuka dunia mengungkapkan, ekspedisi laut yang dipimpin Cheng Ho telah dilakukan 87 tahun sebelum penjelajah kebanggaan Barat, Christopher Columbus, mengarungi luasnya samudera biru. Tak hanya itu, ekspedisi arung samudera yang dilakukan Cheng Ho juga jauh lebih awal dari penjelajah asal Portugis, Vasco da Gama dan petualang asal Spanyol, Ferdinand Magellan.

Petualang Antar Benua

Petualangan antarbenua yang dipimpin Cheng Ho selama 28 tahun (1405 M -1433 M) itu berlangsung dalam tujuh kali pelayaran. Menurut Rosenberg, tak kurang dari 30 negara di benua Asia dan Afrika disinggahi Cheng Ho. Jarak tempuh ekspedisi yang dipimpin Cheng Ho beserta pengikutnya mencapai 35 ribu mil.

Dalam batu prasasti yang ditemukan di Provinsi Fujian itu, Cheng Ho mengatakan bahwa dirinya diperintahkan kaisar Dinasti Ming untuk berlayar mengarungi samudera menuju negara-negara di luar horizon. Dalam ekspedisinya mengelilingi benua Afrika dan Asia itu, Cheng Ho mengerahkan armada raksasa dengan puluhan kapal besar dan kapal kecil serta puluhan ribu awak.

Pada ekspedisi pertama, ia mengerahkan 62 kapal besar dan belasan kapal kecil yang digerakkan 27.800 ribu awak. Pada pelayaran ketiga, Cheng Ho menurunkan kapal besar sebanyak 48 buah dengan 27 ribu awak. Sedangkan pada pelayaran ketujuh, tak kurang dari 61 kapal besar dikerahkan dengan awaknya mencapai 27.550 orang. Padahal, ekspedisi yang dilakukan Columbus saat menemukan benua Amerika hanya mengerahkan tiga kapal dengan awak mencapai 88 orang.

Sebuah ekspedisi yang benar-benar dahsyat. Dalam setiap ekspedisi itu, secara khusus Cheng Ho menumpangi ‘kapal pusaka’. Sebuah kapal terbesar pada abad ke-15 M. Betapa tidak, panjangnya saja mencapai 138 meter dan lebarnya sekitar 56 meter. Ukuran kapal yang digunakan Cheng Ho untuk menjelajah samudera itu lima kali lebih besar dibanding kapal Columbus.

Menurut sejarawan, JV Mills kapasitas `kapal pusaka’ itu mencapai 2.500 ton. Pencapaian gemilang Cheng Ho melalui ekspedisi lautnya pada abad ke-15 M menunjukkan betapa peradaban Cina telah memiliki kapal-kapal besar serta kemampuan navigasi untuk menjelajahi dunia. Anehnya, keberhasilan yang dicapai Cheng Ho itu tak diikuti dengan ekspedisi berikutnya.

”Cheng Ho terlahir sekitar tahun 1371 M di Provinsi Yunan sebelah baratdaya Cina,” ungkap Rosenberg. Nama kecilnya adalan Ma Ho. Dia tumbuh dan dibesarkan dalam sebuah keluarga Muslim. Apalagi, sang ayah pernah menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci, Makkah. Menurut Rosenberg, nama keluarga Ma digunakan oleh keluarga Muslim di Tiongkok merujuk pada Muhammad.

Ketika berusia 10 tahun (1381 M), Ma Ho kecil dan anak-anak yang lain ditangkap tentara Cina yang menginvasi wilayah Yunan. Pada usia 13 tahun, dia dan tahanan muda lainnya dijadikan pelayan rumah tangga Pangeran Zhu Di – anak keempat kaisar Cina. Namun, Ma Ho menjadi pelayan khusus Pangeran Zhu Di.

Pergaulannya dengan pangeran, membuat Ma Ho menjadi pemuda yang tangguh. Dia jago berdiplomasi serta menguasai seni berperang. Tak heran, bila dia kemudian diangkat menjadi pegawai khusus pangeran. Nama Ma Ho juga diganti oleh Pangeran Zhu Di menjadi Cheng Ho. Alasannya, kuda-kuda milik abdi (kasim) kaisar terbunuh dalam pertempuran di luar Istana yang dinamakan Zhenglunba.

“Cheng Ho juga dikenal sebagai San Bao yang berarti `tiga mutiara’,” papar Rosenberg. Cheng Ho yang memiliki tinggi badan sekitar tujuh kaki, posisinya kian menguat ketika Zhu Di diangkat menjadi kaisar pada 1402. Cheng Ho pun lalu didaulat menjadi laksamana dan diperintahkan untuk melakukan ekspedisi. Cheng Ho, merupakan abdi istana pertama yang memiliki pososi yang tinggi dalam militer Cina.

Tegakkan Shalat Sebelum Berlayar

Ekspedisi pertama Cheng Ho dilakukan pada tahun 1405 M – 1407 M. Sebelum memulai ekspedisinya, rombongan besar itu menunaikan shalat terlebih dulu di sebuah masjid tua di kota Quanzhou (Provinsi Fujian). Pelayaran pertama ini mampu mencapai Caliut, barat daya India dan sampai di wilayah Asia Tenggara: Semenanjung Malaya, Sumatera, Jawa, Vietnam, Srilangka. Di setiap persinggahan armada itu melakukan transaksi dengan cara barter.

Tahun 1407 M – 1409 M ekspedisi kedua kembali dilakukan, namun Cheng Ho tak ikut memimpin ekspedisi ini, dia tetap di Cina merenovasi masjid di kampung halamannya. Ekspedisi ketiga digelar pada 1409 M – 1411 M menjangkau India dan Srilanka. Tahun 1413 M – 1415 M kembali melaksanakan ekspedisi, kali ini mencapai Aden, Teluk Persia, dan Mogadishu (Afrika Timur). Jalur ini diulang kembali pada ekspedisi kelima (1417M – 1419 M) dan keenam (1421 M – 1422 M). Ekspedisi terakhir (1431 M- 1433 M) berhasil mencapai Laut Merah.

Ekspedisi luar biasa itu tercatat dan terekam dalam buku Zheng He’s Navigation Map yang mampu mengubah peta navigasi dunia sampai abad ke-15. Dalam buku ini terdapat 24 peta navigasi mengenai arah pelayaran, jarak di lautan, dan berbagai pelabuhan. Jalur perdagangan Cina berubah, tidak sekadar bertumpu pada ‘Jalur Sutera’ antara Beijing-Bukhara.

Tak ada penaklukan dalam ekspedisi itu. Sejarawan Jeanette Mirsky menyatakan, ekspedisi bertujuan untuk memperkenalkan dan mengangkat nama besar Dinasti Ming ke seluruh dunia. Kaisar Zhu Di berharap dengan ekspedisi itu, negara-negara lain mengakui kebesaran Kaisar Cina sebagai The Son of Heaven (Putra Dewata. Tindakan militer hanya diterapkan ketika armada yang dipimpinnya menghadapi para perompak di laut. Cheng Ho tutup usia di Caliut, India ketika hendak pulang dari ekspedisi ketujuh pada 1433 M. Namun, ada pula yang menyatakan dia meninggal setelah sampai di Cina pada 1435. Setiap tahun ekspedisinya selalu dikenang.

Empat Sebutan Jahiliyyah Dalam Al Quran

Setiap kita membaca sejarah Rasulullah shallallahu ’alaihi wassallam di dalam buku-buku sejarah, maka akan selalu dimulai dengan pembahasan mengenai keadaan saat Nabi shallallahu ’alaihi wasallam lahir. Keadaan ini kemudian dikenal dengan sebutan jahiliyah. Kata jahiliyah bukanlah kata yang dibuat oleh sejarah, tetapi kata yang langsung dicantumkan di dalam kitab suci Al-Qur’an. Dan kita perlu membahas hal ini karena ada pelajaran mahal di baliknya.

Pelajaran pertama adalah agar kita tahu bahwa sejarah adalah sesuatu yang sunatullah-nya selalu berulang. Maka kemudian, di zaman mana pun yang kosong dari kenabian dan wahyu, zaman itu akan bergerak menuju lembah kejahiliyahan. Seperti di zaman itu, ketika Rasul shallallahu ’alaihi wasallam belum lahir, zaman itu disebut sebagai zaman fatrah minarusul (zaman kekosongan kerasulan). Di zaman itu orang lupa, bahkan tidak tahu lagi ke mana arah kehidupannya. Mereka melakukan apa saja yang mereka kira benar, padahal semakin hari semakin jauh dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka zaman itu adalah zaman yang jauh dari wahyu dan jauh dari Rasul sehingga kita sebut sebagai zaman jahiliyah.

Untuk itulah kita akan tahu bahwa setiap pribadi, keluarga, masyarakat, negara, hingga dunia ini, asal dia jauh dari panduan Al-Qur’an dan jauh dari petunjuk Rasul shallallahu ’alaihi wasallam, pasti akan menjadi masyarakat jahiliyah.

Kemudian pelajaran yang juga sangat penting dan bahkan lebih penting lagi adalah, setelah kita memandangnya sebagai cermin, maka kita akan belajar dan sekaligus menjawab pertanyaan kita. Bagaimana cara menerangi kembali zaman kita setelah kegelapan jahiliyah itu menyelimuti. Apa solusinya? Di sinilah nanti kita akan mendapatkan pelajaran dari sejarah Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam. Bahwa inilah cara untuk menghilangkan kejahiliyahan itu. Untuk mengembalikan cahaya Islam di bumi ini.

Para ulama banyak yang telah menulis dalam satu buku tersendiri tentang pembahasan jahiliyah. Akan tetapi, saya ingin membahas dari apa yang telah disampaikan oleh Al-Qur’an, untuk memudahkan pembahasan kita. Al-Qur’an menyebut kata al-jahiliyah sebanyak empat kali. Dan ternyata, begitu kita baca keempat-empatnya, kita akan menjumpai bahwa empat hal ini mewakili empat segmen kehidupan jahiliyah.

Jahiliyah yang pertama ada di dalam surah Ali Imron ayat 154. Dalam ayat yang cukup panjang itu, Allah Subhanahu wa Ta’alamenyampaikan,

يَظُنُّونَ بِٱللَّهِ غَيۡرَ ٱلۡحَقِّ ظَنَّ ٱلۡجَٰهِلِيَّةِۖ

“…mereka berprasangka kepada Allah dengan tidak benar seperti prasangka jahiliyah.”

Ini artinya, poin yang pertama adalah jahiliyah dari sisi keyakinan. Jahiliyah dari sisi akidah dan keimanan. Di masa dahulu banyak contohnya. Umpamanya dalam pembahasan kemusyrikan. Dan mari kita perhatikan, jahiliyahnya Arab zaman itu sama persis dengan jahiliyah Indonesia yang kita sebut hari ini sebagai kehidupan modern. Akan tetapi, asal jauh dari Allah dan Rasul-Nya, konsep jahiliyah pasti sama. Misalnya, Rasulullah Shalallahu ’alaihi wassallam pernah menyampaikan bahwa tidak ada keyakinan tentang sialnya bulan Safar. Ternyata sampai hari ini masih ada, dan tidak sedikit yang meyakini bahwa bulan Safar adalah bulan yang tidak baik. Akhirnya banyak yang tidak mengadakan acara-acara besar di bulan tersebut. Inilah keyakinan kemusyrikan jahiliyah yang telah dihapuskan oleh Islam, dari sekian banyak contoh yang lainnya. Begitu pula dengan perdukunan. Salah satu bukti masyarakat itu adalah masyarakat jahiliyah ialah saat perdukunan marak. Masyarakat menjadikan dukun sumber dari segala ilmu mereka dan tempat mereka bertanya dan berkonsultasi. Setiap ada masalah mereka datang ke dukun. Maka ini membuktikan bahwa mereka sedang berada dalam kejahiliyahan akidah.

Yang kedua, al-jahiliyah dalam Al-Qur’an terdapat di dalam surah Al-Maidah ayat 50. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

أَفَحُكۡمَ ٱلۡجَٰهِلِيَّةِ يَبۡغُونَۚ وَمَنۡ أَحۡسَنُ مِنَ ٱللَّهِ حُكۡمٗا لِّقَوۡمٖ يُوقِنُونَ

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin.”

Jahiliyah yang kedua ini berarti tentang hukum. Hukum yang jahiliyah, peraturan, dan perundangan yang jahiliyah. Semakin jauh dari Allah dan Rasul-Nya. Mungkin kita menduga, kita sedang membuat hukum yang sangat bijak. Sebuah hukum yang terlihat begitu bagusnya. Tapi yakinlah, ketika jauh dari Allah dan Rasul-Nya, maka kita akan kecewa dengan dugaan kita. Karena ternyata itu adalah hukum jahiliyah. Di kalangan masyarakat Arab dahulu umpamanya, mereka memiliki aturan kabilah. Dan hukum-hukumnya mereka buat sendiri. Misalnya dalam hukum pernikahan. Aisyah radhiyallahu anhamenyampaikan bahwa dahulu orang-orang Arab mengenal beberapa jenis pernikahan, yang menurut mereka semuanya legal. Padahal menurut hukum syari’at Islam hari ini, yang legal cuma satu saja, yaitu proses pernikahan yang kita kenal hari ini. Sisanya adalah perzinahan. Dan ternyata, hukum jahiliyah hari ini yang terkait dengan pernikahan lebih buruk dari jahiliyah Arab saat itu. Di Arab saat itu tidak ada pernikahan sejenis. Hari ini, mereka sudah menuntut untuk disahkannya pernikahan sejenis. Bahkan di negara tertentu pernikahan sejenis sudah disahkan. Ini hukum jahiliyah yang sangat buruk.

Yang ketiga, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam surah Al-Ahzab ayat yang ke-33,

وَقَرۡنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجۡنَ تَبَرُّجَ ٱلۡجَٰهِلِيَّةِ ٱلۡأُولَىٰۖ

“dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu…”

Ayat ini berbicara tentang ummahatul mukminin, yaitu tentang istri-istri Nabi shallallahu ’alaihi wasallam.

Penampilan jahiliyah adalah bentuk jahiliyah yang ketiga. Ketika penampilan mendapatkan porsi yang khusus dalam Al-Qur’an, maka ini artinya kerusakan akibat yang ditimbulkannya sangat luar biasa. Penampilan jahiliyah inilah yang menyebabkan maraknya kemaksiatan. Bahkan hingga kemaksiatan zina. Maka dari itu ia mendapatkan sebuah perhatian. Dan dalam Islam, penampilan merupakan bukti iman seseorang. Sehingga di dalam Islam yang juga sangat diperbaiki adalah masalah penampilan seseorang. Bagaimana cara laki-laki berpenampilan dan bagaimana cara wanita berpenampilan.

Dan perhatikanlah hari ini! Semakin jauh dari Allah dan dari Rasul-Nya, semakin orang bertelanjang. Dan bahkan mereka minta untuk dilegalkan. Mereka menyebutnya ekspresi diri, ekspresi jiwa, atau mungkin ekspresi seni dalam bahasa mereka. Tapi yang jelas adalah penampilan jahiliyah.

Dan yang terakhir adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surah Al-Fath ayat yang ke-26. Allah berfirman,

إِذۡ جَعَلَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ فِي قُلُوبِهِمُ ٱلۡحَمِيَّةَ حَمِيَّةَ ٱلۡجَٰهِلِيَّةِ

“Ketika Allah menjadikan orang-orang kafir di dalam hati mereka ada kesombongan jahiliyah.”

Di ayat ini ada kata hamiyah jahiliyah. Hamiyah adalah orang yang mempertahankan dirinya dengan kesombongan dan dengan fanatisme. Dengan fanatisme terhadap kelompoknya, sukunya, golongannya, negaranya, dan bukan syari’at Allah yang menjadi ukurannya. Di masyarakat Arab jahiliyah, mereka bisa menumpahkan darah hanya gara-gara kalah di dalam perlombaan berkuda. Ketika salah satu pihak yang kalah marah, dan diejek oleh yang menang dengan kalimat-kalimat syair. Kemudian ujungnya terjadi pertumpahan darah di antara mereka. Bukankah itu yang terjadi hari ini? Fanatisme pada kelompoknya, pada golongannya. Orang bisa menumpahkan darah dan nyawa bisa melayang hanya karena sebuah game. Atau yang lebih besar dari itu. Bagaimana seseorang tidak bisa menerima apa yang disampaikan oleh orang lain karena hatinya telah tertutup oleh fanatisme kelompoknya. Dan ini adalah hamiyatul jahiliyah, yaitu kesombongan fanatisme jahiliyah.

Inilah yang melatarbelakangi keadaan zaman saat itu. Maka zaman saat itu memerlukan kehadiran seorang Rasul yang memperbaiki keadaan mereka, menghapuskan kejahiliyahan, menghadirkan cahaya bagi mereka, dan menyelamatkan manusia untuk ditarik dari jurang kejahiliyahan. Untuk dihantarkan menuju puncak keemasan manusia dan kemuliaan mereka. Sepanjang jalan sejarah Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam, kita akan tahu bagaimana kejahiliyahan itu dihapuskan dari muka bumi ini.

Tuesday, 5 September 2017

Belajar dari Genosida Muslim Bosnia (Refleksi terhadap Toleransi Beragama)

Pada abad ke-13, Bosnia adalah negara dengan mayoritas Muslim. Mereka hidup damai dengan kaum minoritas. Pada masa itu, setidaknya ada 45 persen dari 4,7 juta warga Bosnia memeluk agama Islam. Sisanya adalah Kristen Ortodoks, Katolik, Protestan, dan lainnya.

Arus modernisasi membuat penduduk Bosnia mengikuti gaya Eropa pada umumnya. Identitas agama tidak lagi terlihat mencolok. Semua hidup berdampingan dengan damai dalam bingkai kerukunan antarumat beragama.

Kehidupan Muslim dengan nilai-nilai Islamnya lambat laun pudar di negeri Balkan. Diskotek dan bar muncul di setiap sudut kota. Tak ada lagi jarak antara Muslim dan non-Muslim. Mulai dari cara berpakaian, bergaul, hingga merayakan hari-hari besar keagamaan. Semuanya membaur atas nama besar toleransi.

Dalam diary yang ditulis Zlatan Filipovic--seorang gadis Muslim yang terlahir dalam keluarga terhormat di Sarajevo yang menjadi ibu kota Bosnia--diceritakan bagaimana sekulernya warga Muslim sebelum 1992. Pada masa itu, tak ada lagi wanita Muslim yang memakai kerudung. Kaum lelaki juga hampir sama dengan para lelaki non-Muslim lainnya.

Ketika hari raya agama, seperti Natal dan Lebaran Muslim, hampir seluruh warga Bosnia merayakannya. Tak peduli dia Muslim atau bukan. Anak-anak Bosnia juga terbiasa dengan tradisi barat, seperti Valentine, April Mop, tahun baru, Halloween, dan sejenisnya. Sementara, shalat tak lagi dilakukan.

Muslim Bosnia--seperti Muslim Indonesia yang hijrah dari kepercayaan awalnya Hindu, Buddha, dan animisme--berasal dari pengikut Bogomil, pewaris keturunan Heretis. Keyakinan ini lenyap setelah Islam dari Ottoman Turki masuk dan menawarkan persamaan derajat. Sementara, Bosnia sendiri beridentitas sebagai penduduk mayoritas Muslim, pascaterpecahnya negara federal Yugoslavia (Slovenia, Kroasia, Bosnia dan Herzegovina, Serbia, Montenegro, dan Makedonia) pada 1990.

Di tengah keterlenaan mendalam umat Muslim Bosnia terhadap gaya hidup sekularisme dan toleransi agama yang berlebihan, bangsa Serbia yang mayoritas memeluk Kristen Ortodoks menyimpan api dalam sekam. Dengan dalih penyatuan kembali Yugoslavia dalam Republik Srpska, Serbia melakukan pembantaian terhadap Bosnia dan/atau pemeluk Islam.

Sejarah mencatat aksi Serbia kepada umat Muslim Bosnia itu sebagai genosida terbesar pada masa modern. Pembunuhan dilakukan secara sistematis. Tujuannya menghapus sebuah bangsa dan etnik. Sekuler dan bergaya non-Muslim tak menyelamatkan Muslim Bosnia. Mereka dilenyapkan dan dibantai karena menyandang identitas agama Islam.

Di atas kertas, Komisi Federal Bosnia untuk Orang Hilang mencatat ada 8.373 lelaki dan remaja Muslim Bosnia yang dibunuh dan terbuang dalam ratusan kuburan massal. Pada Juli 2012, 6.838 nama korban teridentifikasi dari galian kuburan massal.

Zlatan Filipovic, gadis 13 tahun (saat mulai peperangan) yang selamat dari pembantaian yang berlangsung hingga 1995 tersebut menulis kesaksiannya. Muslim Bosnia yang tadinya tidak begitu memedulikan nilai-nilai Islam tersentak kaget mendapat serangan yang dimulai pada April 1992.

Teman, saudara, dan anggota keluarga yang beragama lain yang tadinya akrab, natalan bersama, dan merayakan Valentine bersama, kini meninggalkan mereka, bahkan berbalik menyerang dan membunuh mereka bersama tentara Serbia.

Di tengah-tengah puing bangunan yang hancur terdengar desingan peluru yang menggema, ledakan mortir, dan tangis pilu wanita Muslim korban pemerkosaan. Dalam kegetiran, Muslim Bosnia mulai sadar dan kembali kepada identitas keislaman mereka.

Kesadaran muncul. Kaum perempuan kembali menggunakan kerudung, para lelaki sambil menenteng senjata untuk bertahan mulai kembali melakukan shalat. Azan mulai bergema di sela-sela gedung yang roboh. Kitab suci Alquran yang telah lama tersimpan di lemari-lemari dibuka kembali. Namun, mereka terlambat. Mereka sedang diburu peluru dan ujung belati yang haus darah Muslim.

Gempuran yang terjadi membuat Muslim Bosnia harus mengungsi ke kamp-kamp pengungsian. Srebrenica menjadi salah satu kamp terbesar. PBB menyatakan Srebrenica sebagai zona aman bagi pengungsi. Namun, zona itu hanya dijaga oleh 400 penjaga perdamaian dari Belanda, versi lain bahkan menyatakan hanya 100 personel. Tidak ada yang menjamin nyawa Muslim yang mengungsi aman.

Medan pembantaian terbesar umat Muslim abad modern ini bahkan membuat Indonesia tersentak. Pada awal Maret 1995, Presiden Soeharto dan rombongan terbang langsung ke Eropa dan merangsek ke wilayah yang membara, Sarajevo. Memimpin negara Muslim terbesar menjadikan Soeharto melakukan operasi "berani mati" walau PBB menyatakan tak bisa menjamin keamanan kunjungannya.

Pada 6 Juli 1995, pasukan Serbia mulai menggempur pos-pos tentara Belanda di Srebrenica dan berhasil memasuki Srebrenica lima hari setelahnya. Anak-anak, wanita, dan orang tua berkumpul di Potocari untuk mencari perlindungan dari pasukan Belanda. Pada 12 Juli, pasukan Serbia mulai memisahkan laki-laki berumur 12-77 tahun. Mereka dibawa dengan dalih untuk interogasi. Sehari setelah itu, pembantaian terjadi di gudang dekat Desa Kravica.

Malang tak terbendung. Kabar yang berembus menyebut 5.000 Muslim Bosnia yang berlindung diserahkan kepada pasukan Serbia karena Belanda meninggalkan Srebrenica. Muslim Bosnia pun sendirian di antara negara-negara Eropa yang hebat.

Dalam waktu lima hari, 8.000 orang terbunuh di Srebrenica. NATO turun tangan setelah pembantaian, memaksakan perdamaian yang sangat terlambat. Di Sarajevo, 11 ribu orang dibantai tanpa ampun selama tiga tahun penyerangan. Diperkirakan, keseluruhan korban perang Bosnia mencapai 100 ribu orang.

Sesuai dengan Kesepakatan Dayton tahun 1995, keutuhan wilayah Bosnia dan Herzegovina ditegakkan. Namun, negara tersebut dibagi dalam dua bagian: 51 persen wilayah gabungan Muslim-Kroasia (Bosnia dan Herzegovina) dan 49 persen Serbia. PBB juga berjanji mengadili para penjahat perang dalam serangan yang kemudian disebut genosida pertama di dunia.

Mantan presiden Republik Srpska (Serbia) Radovan Karadzic ditangkap pada 21 Juli 2008. Tiga bulan lalu, 23 Maret 2016, Karadzic diganjar 40 tahun penjara oleh International Criminal Tribunal for the former Yugoslavia (ICTY). Dia terbukti bersalah atas pembantaian 8.000 Muslim Bosnia.

"Karadzic juga melakukan kejahatan kemanusiaan lain selama Perang Bosnia 1992-1995,'' demikian bunyi amar putusan ICTY. Sementara, pemimpin serangan Srebrenica, Jenderal Ratko Mladic, ditangkap pada Mei 2011. Kini dia sedang diadili di Mahkamah Internasional.

Pembantaian Muslim Bosnia dengan dalih penyatuan negara menjadi pelajaran bagi umat Islam di luar semenanjung Arab, khususnya Indonesia. Cerita pilu yang mendera Bosnia sepatutnya mengingatkan Indonesia agar tidak terlena dalam penghambaan pada sekulerisme. Sebab, sekulerisme memiliki banyak wajah. Salah satunya adalah untuk menghilangkan warna, pengaruh, dominasi, dan hak-hak yang mayoritas.

Ketika Muslim mayoritas lemah karena krisis identitas, akan sangat mudah dipecah dan diadu domba. Di Indonesia sendiri, upaya agar Muslim meninggalkan identitas agama dalam kehidupan berbangsa dan negara telah ada sejak dulu.

Belakangan, gerakan itu mulai tampak di permukaan dengan sangat masif dan sistematis, bahkan oleh lembaga legal sekali pun. Karena itu, jangan heran jika ada Muslim yang sangat ngotot menghina agamanya demi membela kebebasan versinya.

Jangan heran jika ada Muslim yang ikut menghina ulamanya hanya karena ulama tersebut tak sepaham dengannya. Tidak heran jika banyak Muslim tak suka dengan tulisan-tulisan yang membahas penolakan Islam terhadap sekularisme. Inilah yang terjadi di Indonesia masa kini, negara yang masih dihuni oleh mayoritas umat Islam.

Sementara, tidak ada yang salah dalam toleransi, sepanjang yang diberi toleransi tidak berlebihan, apalagi sampai menindas yang memberi toleransi. Di al-Ludd (kini Tel Aviv), Palestina pada 1903, beberapa Yahudi datang menawarkan persaudaraan dan hidup damai dengan warga Arab dan Palestina.

Namun, hari-hari setelah deklarasi berdirinya Negara Israel pada 1948 oleh Eropa, warga Yahudi berubah menjadi buas bersama kedatangan para tentara Israel. Juli 1948, warga Arab Palestina dibantai, termasuk ribuan orang yang dimasukkan ke dalam masjid kemudian diberondong dengan peluru antitank.

Malamnya, sekitar 35 ribu orang Arab Palestina berduyun-duyun meninggalkan kota kelahiran mereka, yang kemudian menjadi pusat pembantaian berikutnya: Tel Aviv. Hari berganti, warga Yahudi datang dengan gelombang eksodus setiap saat. Jadilah Palestina yang terjajah hingga saat ini. Sederhana, tapi sangat ekstrem dan kejam.

Dunia juga mencatat betapa kejam perlakuan kepada pemeluk Islam yang menjadi minoritas. Hanya PBB dan bantahan dari Myanmar sendiri yang menyatakan pembunuhan terhadap Muslim Rohingya bukan sebuah genosida. Jauh dari itu, kenyataan menceritakan bagaimana genosida dilakukan dengan cara brutal dan terbuka oleh Buddha Myanmar kepada Rohingya yang tak berdaya.

Belajar dari Muslim Bosnia yang mayoritas, saat ini mereka menjadi lebih agamais. Di tengah toleransi, perbedaan, dan kerukunan antarumat beragama, mereka tetap memperhatikan nilai-nilai Islam sebagai identitasnya. Kenyataan pahit 1992-1995 telah mengajarkan kepada mereka bagaimana dunia berdetak, bahwa keburukan hanya beberapa helai di balik kebaikan.

Kini Muslim Bosnia tak lagi merayakan tahun baru. Mereka lebih banyak menjaga diri dari melecehkan akidah Islam. Meski begitu, Bosnia tetap menjadi satu-satunya tempat di Eropa, di mana terdapat gereja, masjid, dan sinagoge yang berdiri berdampingan.

Mungkin 1,8 juta Muslim Bosnia mulai sadar bahwa apa yang dikatakan menantu Rasulullah SAW, Ali bin Abi Thalib, "Kejahatan yang terorganisasi akan mampu mengalahkan kebaikan yang tak terorganisasi," benar adanya. Wallahualam.

Wednesday, 9 August 2017

6 Fakta Tentang Dajjal

Percaya kepada kiamat adalah salah satu bukti keimanan kita sebagai seorang Muslim. Tak mempercayainya, sudah pasti ganjarannya adalah fasik dan bisa dikatakan keluar dari ajaran Islam.

Kiamat akan terjadi, namun kapan dan bagaimana kronologinya masih jadi rahasia besar yang disimpan oleh Allah.

Nabi sendiri menjelaskan dalam banyak riwayat jika kiamat pasti datang namun waktunya tidak bisa ditentukan.

Hal yang pasti adalah kiamat takkan pernah terjadi jika tanda-tandanya tak ditemukan. Misalnya munculnya Imam Al Mahdi, turunnya Nabi Isa dan juga sosok mengerikan yang kita kenal dengan Dajjal.

Dari semua tanda ini Dajjal lah yang harus jadi perhatian kita. Makhluk ini adalah representasi kesesatan yang nyata dan dimampukan oleh Allah melakukan hal-hal menakjubkan agar bisa menyesatkan lebih banyak manusia.

Berikut adalah ciri-ciri serta hal-hal yang berkaitan dengan Dajjal yang wajib untuk kita ketahui.

1. Ciri Fisik Dajjal

Ulama pernah mendebatkan tentang sosok Dajjal ini. Sebagian menganggap ia adalah wujud dari peradaban maju atau sebuah bangsa. Namun sebagian lagi mengatakan jika Dajjal adalah manusia.

Hal ini ditegaskan dalam sebuah hadist, Rasul berkata, “Dia adalah seorang pemuda yang sangat keriting rambutnya, hilang cahaya matanya.” Dari Hadist ini maka bisa disimpulkan jika Dajjal adalah seorang manusia dan masih muda.

Dajjal digambarkan buta satu matanya dan ada tanda kafir di dahinya

Ciri-ciri Dajjal juga disinggung dalam hadist sebelumnya, berambut keriting dan hilang cahaya matanya.

Tak hanya itu, Dajjal juga sering dicirikan dengan buta sebelah matanya.

Serta tanda terakhir adalah tulisan di dahinya yang mempunyai lafal arab “Kaf” “Fa” “Ro” yang artinya adalah kafir.

Tulisan ini hanya bisa dilihat mereka yang benar-benar beriman kepada Allah.

2. Mereka Para Pengikut Dajjal

Sering diceritakan pula jika Dajjal akan jadi pemimpin dari sebuah kaum yang nantinya akan berkonfrontasi dengan umat Islam.

Dalam sebuah hadist, Nabi menjelaskan siapa mereka yang jadi pengikut dajjal ini. “Akan mengikuti Dajjal dari kaum Yahudi Ashbahan 70 ribu orang, mereka memakai semacam thayalisah (sejenis kain yang diselempangkan di pundak).”

Termasuk mereka yang membunuh umat Islam secara keji, mereka adalah pengikut Dajjal

Termasuk para pengikut Dajjal adalah orang-orang yang pandai membaca Al-Qur’an namun tak melewati tenggorokan mereka.

Maksudnya adalah Muslim tapi tidak benar-benar memahami apa yang dianutnya.

Mereka semua ini akan disenangkan oleh Dajjal dengan berbagai tipu muslihat, namun pada akhirnya akan masuk ke dalam nerakanya Allah selama-lamanya.

3. Kemampuan Dajjal yang Harus Diwaspadai

Dajjal adalah fitnah terberat manusia di zaman akhir dan Allah memang memberi makhluk tersebut kemampuan untuk melakukan hal-hal yang mencengangkan.

Dalam banyak riwayat dikatakan jika Dajjal mampu menggenggam surga dan neraka. Manusia di akhir zaman nanti akan dihadapkan dengan ini. Tapi, sesungguhnya apa yang jadi surganya Dajjal jadi nerakanya Allah dan sebaliknya.

Dajjal mampu menunjukkan surga dan negara di tangannya

Tak hanya mampu membawa surga dan neraka, Dajjal juga bisa membunuh seseorang dan menghidupkannya lagi. Tak hanya itu, Dajjal bisa memerintah Bumi dan juga mampu menurunkan hujan.

Satu lagi yang jadi kemampuan terbesar Dajjal, hal tersebut adalah harta-harta yang jumlahnya tak bisa dikira dan hanya diberikan kepada mereka yang mau mengikuti perintahnya.

4. Imam Al Mahdi akan Memerangi Dajjal

Pada masa Dajjal berkuasa, dunia akan dipenuhi dengan kecarut-marutan. Orang-orang Islam yang lemah imannya akan berbondong-bondong keluar dari agama ini.

Di saat kalut seperti ini Allah pun mengutus Al Mahdi, sosok yang dijanjikan Rasul akan membawa dunia menjadi tentram dan Islam berada di masa kejayaannya.

Dunia carut marut karena Dajjal, Imam Al Mahdi kemudian akan dimunculkan

Al Mahdi akan melakukan pergolakan dengan Dajjal dan pasukannya. Namun dalam sebuah riwayat disebutkan jika Al Mahdi seperti kesulitan menahan gempuran Dajjal.

Namun sesuai janji Allah lagi, Al Mahdi mampu memungkasi era kezaliman Dajjal saat makhluk ini berhasil dibunuh oleh Nabi Isa.

5. Dajjal Mati Terhina di Tangan Nabi Isa

Nabi Isa akan turun sesuai janji Allah. Misi utamanya adalah untuk membantu Al Mahdi menegakkan kekhalifahan dan juga menghabisi Dajjal.

Dalam sebuah hadist, pada akhirnya Nabi Isa akan mampu membunuh Makhluk terkutuk ini. Rasul berkata “Sesungguhnya Isa bin Maryam akan membunuh Dajjal di Bab Lud,” Hadist Riwayat Ahmad, Turmudzi, dan Nuaim Bin Hamad.

Bab Lud, tempat Nabi Isa akan membunuh Dajjal

Nabi Isa dikatakan akan membunuh Dajjal dengan menancapkan sebuah tombak. Setelah itu, berangsur-angsur Bumi menjadi tempat yang penuh berkah dan dipimpin oleh seorang khalifah yang dijanjikan, Imam Al Mahdi.

6. Hal-Hal yang Bisa Kita Lakukan Agar Terhindar dari Dajjal

Dajjal adalah fitnah besar, kita takkan pernah sanggup untuk melawan kengeriannya.

Bahkan dalam sebuah riwayat dijelaskan jika nantinya banyak Muslim yang paginya masih teguh memegang Islam, namun sore harinya menjadi kafir setelah melawan Dajjal.

Sampai kedatangan Al Mahdi, maka kita dianjurkan untuk berlindung dan menghindar.

Tidak ada tempat berlindung lain selain kembali kepada Allah

Salah satu caranya dengan menghafalkan 10 ayat pertama Surat Al Kahfi, lalu sebisa mungkin menghindari dan bersembunyi darinya, serta cara terakhir adalah dengan menetap di Mekkah atau Madinah.

Dajjal dan pengikutnya tidak akan mampu masuk ke dalam dua kota ini lantaran Allah telah menyuruh para malaikat untuk menjaganya.

Pertanyaan pentingnya, apakah masa kita sekarang ini sudah dekat dengan Dajjal. Kabar baiknya, sepertinya masih belum. Pasalnya, ada lima fase zaman menurut Nabi, dan Dajjal akan keluar ketika fase terakhir selesai. Kita, menurut yang disampaikan Nabi itu masih berada di fase keempat menjelang kelima.

Meskipun demikian, kita wajib untuk tetap berlindung dari fitnah terbesar akhir zaman ini. Tetap ikuti Al-Qur’an, Sunnah dan Ulama agar hidup kita bisa terselamatkan dari hal-hal yang demikian.

Keutamaan Membaca Ayat Kursi

Keutamaan ayat kursi seperti dijelaskan Ibnu Katsir dalam tafsirnya, “ayat kursi ini memiliki kedudukan yang sangat agung. Dalam hadits shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan bahwa ia merupakan ayat teragung yang terdapat dalam Al-Quran” (Tafsir Al-Quran Al-‘Azhim).

Banyak sekali keutamaan dari ayat kursi. Penulis akan memaparkan beberapa saja dari keutamaan dari ayat kursi.

1. Ayat yang Paling Agung dalam Al-Quran

Sebagaimana yang ada pada pertanyaan yang diajukan oleh Rasulullah kepada Ubay bin Ka’ab, “Ayat mana yang paling agung dalam kitabullah?” Ubay menjawab, “Ayat kursi.” Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam menepuk dada Ubay kemudian berkata, “Wahai Abu Mundzir, semoga engkau berbahagia dengan ilmu yang engkau miliki.” (HR. Muslim).

Ayat Kursi dikategorikan sebagai ayat yang paling agung karena di dalamnya terdapat nama Allah yang paling agung, yaitu Al Hayyu dan Al Qayyum. Namun ulama berselisih pendapat manakah nama Allah yang paling agung.

2. Keagungannya Melebihi Langit dan Bumi

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah Allah menciptakan langit dan bumi melebihi agungnya Ayat Kursi (karena di dalam ayat tersebut telah mencakup Nama dan Sifat Allah)”

Sufyan ats-Tsauri berkata, “Sebab ayat kursi merupakan (salah satu) kalamullah (perkataan Allah), sedangkan kalamullah itu lebih agung dari ciptaan Allah yang berupa langit dan bumi” (HR. At-Tirmidzi)

3. Salah Satu Bacaan Dzikir Sebelum Tidur

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila engkau mendatangi tempat tidur (di malam hari), bacalah Ayat Kursi, niscaya Allah akan senantiasa menjagamu dan setan tidak akan mendekatimu hingga waktu pagi” (HR. Al-Bukhari).

Jadikanlah ayat kursi sebagai dzikir rutin yang dibaca ketika hendak tidur. Selain itu, ayat kursi juga termasuk bacaan dzikir pagi dan petang.

4. Salah Satu Sebab Masuk Surga

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang membaca Ayat Kursi setelah selesai shalat, maka tidak ada yang menghalanginya masuk surga kecuali kematian” (HR. An Nasa-i, dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani).

Beberapa hadits di atas menunjukkan keutamaan Ayat Kursi. Apabila kita merutinkannya, maka kita akan mendapatkan keutamaan yang sangat banyak. Hendaknya setiap muslim bersemangat untuk hal yang bermanfaat bagi dirinya, terkhusus untuk akhiratnya. Ayat Kursi sendiri bukanlah ayat yang panjang dan sulit untuk dihapal. Semoga Allah mudahkan kita untuk mengamalkannya.

Baca Juga :
Kesalahan Remaja zaman sekarang!!
Fakta Keajaiban Dalam Tubuh Manusia
Istiqamah pada Jalan Agama di Zaman Fitnah
Sejarah Islam di Rusia
Ini Manfaat Memiliki Jenggot

Bacaan Niat Puasa Senin Kamis

Bagaimana doa niat puasa senin kamis seperti yang dilakukan oleh Rasulullah dalam Sunnah yang Shahih dan berdasarkan pemahaman islam yang benar. Lafadz niat puasa senin kamis beserta arti dan terjemahannya. Pertama kali, yang harus dijelaskan adalah niat adalah amal hati. Siapapun ulama sepakat dengan hal ini. 

Apakah Niat itu di bibir atau di hati? 

Niat adalah amal hati, dan bukan amal lisan sebagaimana ditegaskan oleh Imam Nawawi rahimahullah :

لا يصح الصوم إلا بالنية ومحلها القلب ولا يشترط النطق بلا خلاف

“Tidak sah puasa kecuali dengan niat, dan tempatnya adalah hati. Dan tidak disyaratkan harus diucapkan, tanpa ada perselisihan ulama…” (Raudhah at-Thalibin, 1:268)

Dalam I’anatut Thalibin –salah satu buku rujukan bagi syafiiyah di Indonesia–, Imam Abu Bakr ad-Dimyathi As-Syafii juga menegaskan :

أن النية في القلب لا باللفظ، فتكلف اللفظ أمر لا يحتاج إليه

“Sesungguhnya niat itu di hati bukan dengan diucapkan. Memaksakan diri dengan mengucapkan niat, termasuk perbuatan yang tidak butuh dilakukan.” (I’anatut Thalibin, 1:65).

Mengingat niat tempatnya di hati, maka memindahkan niat ini di lisan berarti memindahkan amal ibadah bukan pada tempatnya. Dan tentu saja, ini bukan cara yang benar dalam beribadah. Jadi, inti niat adalah keinginan. Ketika Anda menginginkan untuk melakukan seuatu maka Anda sudah dianggap berniat. Baik amal ibadah maupun selain ibadah. Ketika Anda ingin makan, kemudian Anda mengambil makanan sampai Anda memakannya, maka Anda sudah dianggap niat makan. Demikian halnya ketika Anda hendak shalat dzuhur, Anda mengambil wudhu kemudian berangkat ke masjid di siang hari yang panas, sampai Anda melaksanakan shalat, tentu Anda sudah dianggap berniat.

Artinya modal utama niat adalah kesadaran. Ketika Anda sadar dengan apa yang akan Anda kerjakan, kemudian Anda berkeinginan untuk mengamalkannya maka Anda sudah dianggap berniat. Ketika Anda sadar bahwa besok Ramadhan, kemudian Anda bertekad besok akan puasa maka Anda sudah dianggap berniat. Apalagi jika malam harinya Anda taraweh dan makan sahur. Tentu ibadah semacam ini tidak mungkin Anda lakukan, kecuali karena Anda sadar bahwa esok pagi Anda akan berpuasa Ramadhan. Itulah niat.

Bagaimana Melafadzkan Niat Puasa Senin Kamis dan Niat Ibadah lainnya, seperti shalat, zakat, sedekah, ceramah, naik haji, membaca Al Qur'an, dll?

Kita tidak disunnahkan melafazhkan niat. Alasannya, karena hal itu termasuk perkara yang tidak ada landasannya. Melafazhkan niat sama sekali tidak ada dasarnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga tidak ada contohnhya dari para sahabat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tidak memerintahkan kepada salah seorang dari umatnya untuk melafazhkan niat. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tidak mengajarkannya kepada salah seorang dari kaum muslimin. Seandainya melafazhkan niat memang sudah dikenal di masa kenabian dan disyari’atkan, tentu akan diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, karena umat ketika itu melakukan ibadah siang dan malam. Pendapat yang menyatakan melafazhkan niat itu tidak ada tuntunannya, itulah pendapat yang lebih kuat. 

Apa yang seharusnya kita lakukan untuk meneladani Rasulullah dalam cara berniat?

Setelah pembaca sekalian membaca sendiri dengan seksama, apa yang bisa pembaca sekalian simpulkan? Coba bandingkan manakah yang jadi petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamdan yang bukan? Apakah benar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan melafazhkan niat? Kalau iya, tentu saja beliau akan mengajarkan pada para sahabat dan itu pun sampai kepada kita sebagaimana diberitakan dalam hadits. Namun tidak pernah kita saksikan orang yang menganjurkan melafazhkan niat “usholli fardhu …”, “nawaitu wudhua …”, atau “nawaitu shouma ghodin …”, membuktikan bahwa amalan tersebut berdasarkan hadits Bukhari, Muslim dan lain sebagainya. Lantas pantaskah ibadah dibuat-buat tanpa ada dasar? Ataukah seharusnya kita ikuti ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja?

Sungguh sederhana dalam petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih baik daripada berlebih-lebihan namun dalam amalan yang tanpa tuntunan. Sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sederhana memerintahkan berniat cukup dalam hati, tanpa perlu menghafal berbagai lafazh niat untuk diucapkan.

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,

اتَّبِعُوا، وَلا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ، كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ

“Ikutilah petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, janganlah membuat amalan yang tanpa tuntunan. Karena petunjuk beliau sudah cukup bagi kalian. Semua amalan tanpa tuntunan adalah sesat.” [HR Thabrani/Al Mu’jam Al Kabir no. 8770]

Silakan pembaca merenungkan sendiri, manakah yang benar, perlukah melafazhkan niat ataukah tidak? Namun tentu saja itu berdasarkan ilmu dan bukan sekedar menurut hawa nafsu semata atau manut pada apa kata pak kyai semata. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala selalu memberikan hidayahnya kepada kita semua.

Apakah niat puasa senin kamis harus dimulai sejak sebelum subuh?

Berdasarkan sebuah hadits bahwa, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menemuiku pada suatu hari. Lalu beliau bertanya, “Apakah kamu memiliki makanan?” Kami jawab, ‘Tidak.’

Lalu beliau mengatakan, “Jika demikian, saya puasa saja.”

Sebagai contoh kasus, ketika hari senin, si A tidak ada keinginan untuk puasa. Sehingga dia tidak sahur. Namun sampai jam 7.00, dia belum mengkonsumsi makanan maupun minuman apapun. Ketika melihat istrinya puasa, si A ingin puasa. Bolehkah si A puasa?

Jawab: Jika kita mengambil pendapat jumhur, si A boleh puasa. Karena sejak subuh dia belum mengkonsumsi apapun.

Bolehkah puasa senin saja atau puasa kamis saja?

Para ulama menegaskan, puasa di dua hari ini bukan satu kesatuan. Artinya, orang boleh puasa senin saja atau kamis saja. Karena tidak ada perintah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa dua hari itu harus dipasangkan, demikian pula tidak ada larangan dari beliau untuk puasa senin saja atau kamis saja. Syaikh Abdul Aziz ar-Rajihi menjawab : 

لا بأس يفرد الاثنين أو الخميس، فالمنهي عن إفراده الجمعة لقول النبي صلى الله عليه وسلم: “لا تخصوا ليلة الجمعة بقيام من بين الليالي ولا يومها بصيام من بين الأيام” رواه مسلم

Tidak masalah puasa senin saja atau kamis saja. Karena yang dilarang adalah puasa hari jumat saja, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Janganlah kalian khususkan malam jumat dengan shalat tahajud sementara di malam-malam lain tidak, dan jangan khususkan hari jumat dengan puasa, sementara di hari-hari lainnya tidak puasa.” (HR. Muslim)

Baca Juga :
Menumbuhkan Jiwa Wirausaha Sejak Dini
10 Golongan Manusia yang Akan Masuk Surga Tanpa Hisab
Bersandar Hanya Kepada Allah Saja
Mengenal Manhaj Salaf
10 Dosa yang Tidak Diampuni oleh Allah SWT